Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

DARI NOL HINGGA PRESTASI JEMPOL” Sebuah Esai tentang Mengembangkan Ekstrakurikuler di Sekolah

Oleh : Eka Wijayanti S.S. Guru Bahasa Indonesia dan Seni Budaya SMK Kesehatan Adi Husada Kota Malang Guru. Sebuah profesi yang dahulu dihormati, membuat siswa tunduk patuh, menjadi tuntunan dan panutan. Saya masih ingat saat menduduki bangku sekolah dasar di tahun 1990-an, sungguh amat tabu jika kita tak mematuhi perintah guru. Sungguh malu jika satu saja kata makian disematkan oleh yang mulia guru. Tetapi, itu dulu. Saat setiap kata dan laku dari guru benar-benar digugu lan ditiru. Bagaimana dengan masa sekarang? Di era milenial ini, seorang murid tak hanya mencari ilmu dan mengasah akal. Murid juga mencari guru dengan kemampuan yang handal. Tak hanya mahir mencibir, namun juga kritis berpikir. Tak cuma lihai ceramah, namun juga mampu menunjukan arah Maka hal ini seirama dengan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, bahwa guru memiliki 7 kewajiban pokok dalam tugasnya, yakni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi. Sehingga tugas seorang gur...

PENTAS MUSIM HUJAN” Eksplorasi Potensi Emas dalam Spirit Kemandirian (Sebuah Cerita tentang Inspirasi Mengembangkan Ekstrakurikuler Teater)

Oleh : Eka Wijayanti S.S. Guru Bahasa Indonesia dan Seni Budaya SMK Kesehatan Adi Husada Kota Malang Teater. Masih menjadi pemahaman umum bahwa Teater adalah kegiatan bermain peran dengan naskah sebagai acuan. Mengubah diri pribadi menjadi sosok yang diinginkan sutradara. Berakting menawan dengan dialog dan laku sesuai tuntutan peran. Mirisnya, sebagian orang masih menganggap bahwa Teater adalah kegiatan ekstrakurikuler yang dianggap buang-buang waktu, menyusahkan, dan menguras banyak tenaga. Umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini belum memahami sepenuhnya bagaimana siswa-siswi belajar mengembangkan diri melalui Teater. Bahwa dalam teater ini, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang amalan paling hakiki bagi seorang manusia, yakni belajar menjadi rahmatan lil alamin (bermanfaat bagi seluruh umat). Sebagai pegiat yang merintis pendalaman teater secara otodidak, kegiatan bermain peran ini tak bisa lagi dilakukan degan metode tradisional. Pendekatan, langkah, proses ...