Oleh
: Eka Wijayanti S.S.
Guru
Bahasa Indonesia dan Seni Budaya
SMK
Kesehatan Adi Husada Kota Malang
Guru.
Sebuah profesi yang dahulu dihormati, membuat siswa tunduk patuh, menjadi
tuntunan dan panutan. Saya masih ingat saat menduduki bangku sekolah dasar di
tahun 1990-an, sungguh amat tabu jika kita tak mematuhi perintah guru. Sungguh
malu jika satu saja kata makian disematkan oleh yang mulia guru. Tetapi, itu
dulu. Saat setiap kata dan laku dari guru benar-benar digugu lan ditiru.
Bagaimana dengan masa sekarang? Di era milenial ini, seorang murid tak hanya
mencari ilmu dan mengasah akal. Murid juga mencari guru dengan kemampuan yang
handal. Tak hanya mahir mencibir, namun juga kritis berpikir. Tak cuma lihai
ceramah, namun juga mampu menunjukan arah Maka hal ini seirama dengan Undang-Undang
No. 14 Tahun 2005, bahwa guru memiliki 7 kewajiban pokok dalam tugasnya, yakni
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi.
Sehingga tugas seorang guru tidak hanya sekedar memberi pendidikan, menjejalkan
materi kepada siswa. Guru pun harus melakukan aktivitas membimbing,
mengarahkan, melatih. Proses ini lah yang kemudian dapat diakses melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Masa
revolusi industri 4.0 telah mewujudkan tranformasi dari pekerjaan tangan
menjadi tugas mesin harian. Lapangan kerja kian menipis karena ketahanan kerja
manusia makin mengempis. Kalah dengan mesin-mesin otomatis. Maka, sebagai
pendidik calon generasi masa depan, kita harus mempersiapkan siswa agar
memiliki keterampilan khusus dan unik yang membuat mereka patut diperhitungkan
dan berdaya saing ciamik. Hal ini yang menghadirkan keyakinan bahwa
ekstrakurikuler adalah salah satu langkah yang akan mengantar kita menemukan
harta kekayaan otak kanan-kiri siswa. Kegiatan fisik yang aktif, rangsangan
berpikir inovatif, pengembangan seni budaya kreatif, sosialisasi reaktif,
memungkinkan siswa memiliki bekal yang cukup untuk bertahan menghadapi kerasnya
dunia di masa depan.
Jurnalistik,
akhirnya menjadi ekstrakurikuler pertama yang dikembangkan di SMK Kesehatan A di
Husada. Warna dan cerita terjalin begitu saja seiring perjuangan yang berawal
dari tanpa apa-apa, alias nol. Bermula di tahun 2012 saat kami menghuni sepetak
ruko sebagai tempat pendaftaran, hingga beralih ke rumah bekas klinik di
pinggir jalan. Fasilitas masih sangat terbatas, sumberdaya manusia juga bukan
dari kalangan atas. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk
memulai dari hal yang sederhana, Mengembangkan ekstrakurikuler jurnalistik yang
kami pikir tak butuh banyak dana, kemampuan dan keterampilan pun masih dapat di
rekadaya. Perjuangan semakin seru mengingat para anggota perintis ini masih
awam dalam dunia goresan pena. Namun, kegigihan untuk belajar, motivasi yang
kuat mengakar, serta mental siap hajar membuat mereka mampu berkembang dalam
waktu sebentar. Berawal dari 3 orang anggota perintis, kegiatan menulis teknis
dan berkarya sastra romantis menjadi rutinitas para aktivis yang akhirnya
berbuah manis. Dengan riset dan eksplorasi literasi, untuk pertama kalinya kami
berhasil menerbitkan mading 3 dimensi dengan bentuk menara buah Tomat. Mading
pertama ini kemudian menyumbangkan piala pertama untuk sekolah sebagai Juara 2 Lomba
Mading 3 Dimensi antar SMA/SMK se-Malang Raya tahun 2013. Alhamdulillah.
Berikutnya,
seorang siswi berhasi menyematkan karya dan namanya dalam sebuah rubrik sastra
majalah milik Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Melalui pelatihan dan proses
seleksi dari puluhan pelajar se-Jawa Timur, tangan ini gemetar saat pertama
menerima majalah via pos dan melihat namanya tercantum di cover majalah.
Perlahan
peminat makin meningkat. Hingga di tahun terakhir kami berhasil mengumpulkan
puluhan anggota. Langkah baru kami tempuh dengan memberi nama tim jurnalistik :
Metamorf, berharap agar setiap langkah kami dapat selalu bermanfaat dan menjadi
lebih baik dalam bermunajat. Kemudian kami memulai untuk memberanikan langkah
ke tingkat Provinsi, mengalahkan pesaing dari sekolah elit dengan hasil karya
sederhana namun menggigit. Kerja keras begadang, riset penelitian
berbulan-bulan, revisi berulang-ulang, dijalani dengan tekun meski fisik sampai
tumbang. Tatapan khawatir sempat hadir karena rekan berlomba berasal dari
sekolah-sekolah unggulan, terbaik di daerah asalnya. Dengan kekuatan dzikir
yang tak henti terucap di bibir, niat belajar yang tak pernah pudar semua itu
kemudian bertransformasi menjadi energi yang menguatkan. Paduan antara kesederhanaan,
percaya diri, semangat berjuang akhirnya mengantar tim Jurnalistik SMK
Kesehatan Adi Husada kembali meraih prestasi sebagai Juara 1 Lomba Mading
tingkat Jawa Timur tahun 2018.
Haru
menderu, bangga membahana. Usaha yang berawal dari nol, ternyata dapat
menghasilkan prestasi jempol. Sempat khawatir bahwa prestasi dan popularitas
akan meningkatkan derajat kesombongan sehingga merasa di atas awan. Namun tetap
kami ingat bahwa kemenangan bukanlah tujuan. Kami saling mengingatkan bahwa semua
adalah kehendak Allah. Harus dipahamkan jika ekstrakurikuler bukan cuma soal rutin padatnya
kegiatan, kami harus sepakat bahwa dalam kegiatan ekstrakurikuler pun kita
sedang mencari ilmu, sekaligus berusaha untuk menjadi berarti bagi sesama. Tak
ada cerita bahwa ekstrakurikuler adalah sebab anjloknya nilai. Tak boleh ada
keluhan bahwa kegiatan berlomba adalah biang kerok tugas yang terlupa. Komitmen
tentang ini adalah mutlak. Karena dengan begini, artinya mereka benar-benar
mensyukuri apa yang dianugerahkan. Memaksimalkan potensi diri dan tetap
mengutamakan kewajiban sebagai anak negeri.
Ajaibnya,
diam-diam mereka ternyata beberapa kali mengikuti lomba puisi tingkat Nasional.
Meski belum pernah meraih juara, namun mereka luar biasa. Mencipta sendiri
puisi menyentuh hati, mengejar kesempurnaan karya walau terkadang galau mau
diberi judul apa, berusaha bersaing dengan ribuan khalayak umum, saya pribadi
justru merasa trenyuh. Sejujurnya saat seusia mereka, dengan kegagalan di satu
lomba saja, saya akan malu karena kalah berpacu, kecewa tak dapat juara. Akan
sulit untuk bangkit dan memulai lagi perjuangan yang baru. Maka disinilah, kita
sudah sampai di gerbang pertama untuk mempersiapkan siswa yang patut
diperhitungkan dan berdaya saing ciamik.
Idealnya,
siswa yang terbiasa berproses kreatif akan memiliki kemampuan kooperatif yang
lebih baik. Jiwa kompetitif juga bertumbuh sehingga mereka menjadi pribadi yang
selalu terpacu untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Kebiasaan
bangkit dari kegagalan membentuk karakter yang mampu bertahan. Piala, hadiah, atau
piagam atas kejuaraan belum tentu menjadi keberhasilan yang patut dielukan.
Usaha mereka membuktikan bahwa keberhasilan seorang guru adalah melihat
muridnya bisa sukses, melebihi apa yang dicapai oleh guru yang pernah
mengajarnya. Lalu mata ini tak dapat menyembunyikan binar atas keseriusan capaian
studi lanjutan di bidang sastra universitas ternama. Selanjutnya, hati ini tak
bisa menghentikan degup kencang sebab keberanian perintis jurnalistik yang
berkarier sampai ke negeri Sakura.
Belai kebahagiaan ini tak sepatutnya membuat
kita lupa bahwa tugas guru masih amat panjang. Setiap anak didik harus
dipastikan bahwa kesuksesan adalah buah dari proses yang menyakitkan. Maka,
jejak perjuangan ini mulai kami rintis untuk didokumentasikan. Sambil belajar,
kami memulai pemanfaatan Informasi dan Teknologi (IT) untuk pengembangan
ekstrakurikuler. Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan
akses berkaitan dengan ekstrakurikuler. Pemanfaatan formulir online, berbagai
aplikasi, media promosi online diupayakan bisa dimaksimalkan sehingga meski
aktif berkegiatan, mereka juga mampu menguasai IT.
Pada
akhir cerita, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, kami dapat
mengenang sejarah ini, dalam bingkai catatan yang lebih indah. Saat mereka
melahirkan generasi yang mewarisi bakat dan kerja keras orang tuanya. Atau
mereka menjadi guru dari murid-murid nya yang berjuang pula dari nol, hingga
menghasilkan prestasi super jempol. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar