PENTAS MUSIM HUJAN” Eksplorasi Potensi Emas dalam Spirit Kemandirian (Sebuah Cerita tentang Inspirasi Mengembangkan Ekstrakurikuler Teater)
Oleh
: Eka Wijayanti S.S.
Guru
Bahasa Indonesia dan Seni Budaya
SMK
Kesehatan Adi Husada Kota Malang
Teater.
Masih menjadi pemahaman umum bahwa Teater adalah kegiatan bermain peran dengan
naskah sebagai acuan. Mengubah diri pribadi menjadi sosok yang diinginkan
sutradara. Berakting menawan dengan dialog dan laku sesuai tuntutan peran.
Mirisnya, sebagian orang masih menganggap bahwa Teater adalah kegiatan
ekstrakurikuler yang dianggap buang-buang waktu, menyusahkan, dan menguras
banyak tenaga. Umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini belum memahami
sepenuhnya bagaimana siswa-siswi belajar mengembangkan diri melalui Teater.
Bahwa dalam teater ini, sesungguhnya mereka sedang belajar tentang amalan
paling hakiki bagi seorang manusia, yakni belajar menjadi rahmatan lil alamin (bermanfaat bagi seluruh umat).
Sebagai
pegiat yang merintis pendalaman teater secara otodidak, kegiatan bermain peran
ini tak bisa lagi dilakukan degan metode tradisional. Pendekatan, langkah,
proses riset dan literasi harus mengikuti arus industri kini diminati oleh
geberasi zaman now. Teater di era
milenial tak lagi melulu bicara soal pertunjukan yang emosional, penuh amarah,
tangis, atau dalamnya rasa sesal. Teater lebih berbicara soal hidup,
kebahagiaan, ketulusan, atau lelucon yang membuat penonton terpingkal. Teater
adalah berbagi dengan hati, berkarya dengan rasa. Inilah yang dikembangkan
dalam perjalanan merintis dan mewujudkan generasi berprestasi dalam wadah
“Teater Djaya” SMK Kesehatan Adi Husada.
Seni
Teater, akhirnya menjadi ekstrakurikuler ke sekian yang dikembangkan di SMK
Kesehatan Adi Husada. Kisah terajut indah seiring perjuangan yang patut
dikenang. Bermula di tahun 2013 saat sekolah kami memiliki Angkatan ke 2 yang
jumlahnya 3 kali lipat dari angkatan pertama. Meski dengan fasilitas masih
sangat terbatas, sumberdaya manusia juga bukan dari kalangan atas. Namun
variasi kemampuan dan keterampilan sudah mulai menunjukkan adanya geliat yang
cukup berkualitas. Perjuangan semakin seru saat kemudian kami didapuk mengikuti
festival teater se- Jawa Timur pada Tahun 2013. Dari lomba ini kemudian kami
meraih nominasi Sutradara Terbaik, Penulis Naskah Terbaik, dan Penata Artistik
Terbaik dalam event Festival Teater antar
SMA/SMK se-Jawa Timur tahun 2013. Alhamdulillah.
Berikutnya,
perlahan kiprah Teater Djaya SMK Kesehatan Adi Husada mulai dikenal di kancah
regional hingga nasional. Hampir dalam setiap tahun kami memberikan prestasi
untuk sekolah. Prestasi yang menggembirakan saat kami masuk dalam 25 peserta dari
seluruh Indonesia untuk mengikuti Workshop Ruang Kreatif Indonesia Kaya. Disini
kami mengikuti pelatihan yang dengan mentor seniman ternama seperti Garin
Nugroho, Happy Salma, Nano Riantiarno (Teater Koma), Eko Supriyanto, dan banyak
lagi. Kami juga di dapuk menyajikan tampilan seni di berbagai acara seperti
Pembukaan Pawai Kendaran Hias, peringatan HUT RI, dan pembukaan Museum Sejarah
di kota kami. Padatnya kegiatan Teater Djaya membuat para personilnya harus
cermat membagi waktu antara sekolah, latihan, dan kegiatan pribadi di rumah.
Ini tidak mudah, karena tak ada prestasi yang diperjuangkan dengan cuma-cuma.
Semua harus penuh pengorbanan.
Hal
ini mengawali kisah perjalanan Teater Djaya dengan mood yang naik dan turun. Terkadang kabar bahagia dan kabar nestapa
datang beruntun. Intensitas kebersamaan dan latihan yang cukup tinggi membuat
beberapa anggota jatuh sakit, sehingga terpaksa kami harus merelakan para
pemain terbaik untuk beristirahat sampai keadaannya pulih.
Belum
lagi keluhan tentang bagaimana teman-teman sesama kelas memandang para pegiat
teater ini sebagai siswa merepotkan yang sering pinjam buku atau catatan demi menyusul
ketertingggalan pelajaran, sering meninggalkan kelas untuk latihan, dan ocehan
lain yang sekali waktu membuat mereka kecil hati. Ajaibnya justru peristiwa ini
membuat mereka yang senasib sepenanggungan dapat bersepakat untuk menghadapi
dengan tangguh. Tekad dan niat yang kuat menjadikan mereka sosok yang tahan
banting. Tetap semangat berlatih, namun mengejar pelajaran juga amat gigih.
Jatuh
bangun yang mereka alami akhirnya membuat kami, sebagai pelatih memiliki banyak
kesempatan untuk memberikan motivasi tentang apa makna dari semua yang mereka
hadapi. Bahwa mereka pun sedang berjuang menemukan jati diri. Melalui proses
latihan mereka belajar disiplin dan ketahanan diri. Maka perjuangan ini berbuah
manis, saat mereka berhasil meraih penghargaan sebagai Nominasi Naskah Terbaik,
Nominasi Pemain Putri Terbadik, dan Penyaji Unggulan di Festival Kreasi Seni
dan Bakat antar SMK Kesehatan tingkat Nasional pada bulan Oktober 2018.
Rentetan
capaian prestasi yang membanggakan tentu menjadi tawa kebahagiaan bagi keluarga
besar Teater Djaya. Namun tak bisa kami sembunyikan adanya bibit-bibit
kekhawatiran. Bahwa sindrom mental juara sungguh membahayakan bila tak
dikendalikan. Harus ada upaya tertentu untuk membuat siswa lebih terpacu,
terbiasa berpikir kritis dan kreatif.
Lalu
tercetuslah “Pentas Musim Hujan”. Sebuah pentas yang kami rancang dengan tujuan
untuk mewadahi seluruh siswa yang ingin berpentas. Tajuk musim hujan sesuai
dengan masuknya bulan Desember yang memang basah lantaran musim hujan telah
datang. Jika mau lebih dalam berfilosofi, tajuk ini dipilih karena kami ingin
mereka membuktikan, sejauh mana keseriusan upaya mereka dalam berpentas. Apakah
gerimis, hujan, bahkan badai akan menjadi penghalang yang berarti?
Aturan
main pentas ini cukup sederhana. Kami membagi mereka dalam 3 tim. Lalu mereka
memilih cerita, membuat naskah, dan menyutradarai sendiri pentas yang akan
disajikan dua hari kemudian. Ya, seluruh ide, konsep, jadwal latihan,
desainkostum, siswa-siswi sendiri yang membuatnya hanya dalam dua hari. Bukan
tanpa alasan, peraturan ini terpaksa kami buat karena kami terkendala agenda
sekolah yang mendekati libur semester. Selain itu, dalam waktu singkat
diharapkan mereka mampu mengatur strategi yang terbaik untuk penampilan
kelompoknya. Saya optimis mereka akan bersemangat. Di sisi lain, rasional
kiranya jika saya berpraduga bahwa mungkin mereka akan merasa kesulitan,
bingung dan jatuhnya hanyalah tampilan sederhana yang mampu mereka tampilkan.
Namun itu bukanlah goal dari kegiatan
“Pentas Musim Hujan” ini. Kemandirian, kemampuan berkomitmen, serta belajar
menghadapi segala kemungkinan adalah misi utama yang ingin kami
transformasikan.
Gonjang-ganjing
kehebohan berhamburan di lintasan pikiran para pegiat teater ini. Rona antusias
menghiasi tatapan yang bercampur dengan jutaan sukacita yang berpendar dari
sorot mata mereka. Sangat berbanding terbalik dengan prediksi awal saya. Sayap
makin melebar dengan keberanian mereka mengajak rekan dari ekstrakurikuler lain
untuk bergabung menjadi pendukung pementasan. Dari ekstrakurikuler Tari, Musik,
Dance, Pramuka, hingga Pecinta Alam, berhasil berkolaborasi dalam Pentas Musim
Hujan ini.
Kejutan
belum selesai sampai disini. Seluruh pendukung pertunjukan ternyata mereka
persiapkan secara detail. Mulai dari kostum, make up, hingga property. Sungguh
tak disangka bahwa mereka memiliki endapan pemikiran yang sudah merambah ranah
multi dimensi. Cerita yang disampaikan sungguh menarik dan di luar dugaan. Benar
saja, ketiga tim tampil cukup menawan. Untuk ukuran latihan selama dua hari dan
dengan tim yang baru hal itu menjadi capaian yang patut dikategorikan jempolan.
Mereka membuktikan bahwa mereka tak hanya lihai menjadi pemain atau aktor,
kemampuan tentang manajemen konsep dan dinamika kelompok juga pantas
diperhitungkan.
Bagi
saya, Pentas Musim Hujan ini adalah sebuah wujud bagaimana para pegiat
ekstrakurikuler ini dapat melakukan eksplorasi terhadap potensi emas yang
mereka miliki dalam semangat kemandirian. Siswa zaman now bukan lagi siswa yang menunggu perintah, Siswa zaman now adalah mereka yang penuh inisiatif,
kreatif dan inspiratif. Lewat Pentas Musim Hujan ini, siswa-siswi pegiat teater
mampu menampilkan kreativitas dalam sudut pandang yang lebih “remaja”. Tidak dituntut
popularitas maupun kesempurnaan yang membebani. Semua dinikmati karena dari
hati. Ketulusan untuk berarti bagi sesama dengan menampilkan sajian yang sarat
akan amanah.
Idealnya,
siswa yang terbiasa berproses kreatif akan memiliki kemampuan kooperatif yang
lebih baik. Jiwa kompetitif juga bertumbuh sehingga mereka menjadi pribadi yang
selalu terpacu untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Piala, hadiah, atau
piagam atas kejuaraan belum tentu menjadi keberhasilan yang patut dielukan.
Usaha mereka membuktikan bahwa keberhasilan seorang guru adalah melihat
muridnya bisa sukses, melebihi apa yang dicapai oleh guru yang pernah mengajarnya.
Tepat keesokan harinya, senyum ini merekah indah saat mengetahui bahwa mereka,
para pegiat ekstrakurikuler ini berhasil meraih prestasi akademik terbaik di
kelasnya, pada penerimaan Rapor semester Gasal.
Prediksi
atas kemerosotan prestasi akademik adalah hal yang seringkali menjadi bahan
cemoohan saat mereka mati-matian mengejar ketinggalan materi pelajaran. Entah
survey dari mana yang membuat beberapa pihak memberikan vonis semacam ini.
Padahal tak jarang, para aktivis ekstrkurikuler juga lah yang menjadi lulusan
terbaik. Bukankah ini sudah membuktikan bahwa sebenarnya, mencari yang terbaik
adalah mencari keseimbangan. Dalam hal ini, bagaimana siswa dapat menyeimbankan
otak kanan dan kiri, menyeimbangkan logika dan kreativitas, menyeimbangkan
teori dan praktik, menyeimbangkan waktu dan tenaga, yang kesemuanya itu hanya
bisa didapatkan melalui latihan yang serius.
Namun dari sinilah, pembuktian justru semakin
dimudahkan oleh Tuhan. Pentas Musim Hujan menjadi titik balik bagi saya bahwa
kita harus terbuka menghadapi potensi yang dimiliki siswa. Bukan hanya terbuka,
namun juga perlu ada upaya yang sesuai takarannya. Potensi emas siswa harus
kita jembatani dengan langkah yang menginspirasi. Tak cukup hanya duduk manis
menunggu mereka menunjukkan potensinya. Ada kondisi dimana kita lah yang harus
atraktif menggali potensi mereka.
Pendulang emas tak akan mendapakan
emasnya hanya dengan terpaku menunggu arus membawakan padatan berkilau itu.
Sebab mereka adalah pendulang emas, bukan penadah emas. Dan Pentas Musim Hujan
telah menunjukkan kilauan emas-emas ini, berbalut spirit kemandirian, maka buah
dari eksplorasi ini adalah bagaimana menemukan emas terbaik. Emas terbaik bukan
sekedar padatan berkilau yang tak berbentuk. Ia harus siap dieksplorasi agar
mampu menjadi inspirasi. Menjadi perhiasan yang abadi, indah dikenakan dengan
kualitas yang menawan.
Catatan
: untuk dokumentasi catatan penulis dan “pentas musim hujan” dapat ditinjau
pada laman youtube dengan keyword “pentas musim hujan Djaya”
Komentar
Posting Komentar