Langsung ke konten utama

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

 

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

Oleh : Eka Wijayanti, S.S.

(Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)

 

 

            Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan  Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.

            Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalkan pertunjukan musikalisasi puisi kepada peserta didiknya. Di antara apresiasi ini, terselip beberapa hal yang sekiranya perlu disampaikan. Bukan sebagai upaya mendistorsi karya atau menggali kekurangan, ini adalah upaya agar spirit bermusikalisasi puisi ini dapat mendekati pemahaman yang bagi saya cukup berterima. Sebab memang belum banyak acuan khusus mengenai musikalisasi puisi. Mempedomani referensi dari Badan Bahasa, hasil workshop Musikalisasi Puisi bersama Balai Bahasa Jawa Timur, serta penyampaian perihal Musikalisasi Puisi oleh Marhalim Zaini, berikut beberapa poin evaluatif yang sekiranya dapat dilakukan untuk memperkaya referensi dalam berkarya musikalisasi puisi.

1.     

  Musikalisasi Puisi, harus mampu meng-highlight  puisi

Jebakan yang terbungkus dalam pertanyaan, musiknya harus bagus atau berpuisinya yang bagus? Secara umum biasanya kita akan menjadikan teks pada puisi sebagai lirik dalam komposisi musik. Hal ini mungkin bukan perihal yang paling sulit. Maka langkah awalnya adalah memilih puisi yang sesuai. Sesuai disini bukan hanya dari sisi komposer, kesesuaian juga perlu disinergikan dengan sumber daya yang ada. Mulai dari kemampuan interpretasi tim pemusik, karakter vokal, kemampuan bermusik, sampai pada potensi alat musik yang dimiliki dan kemungkinan bereksplorasi. Pertimbangan ini penting, sebab masih banyak yang terkurung pada konsepsi “musikalisasi puisi adalah melagukan puisi”.

Hal ini yang perlu diluruskan bahwa musikalisasi puisi adalah interpretasi puisi ke dalam bentuk musikal yang meliputi komposisi serta instrumentasi (Dipayana, 2010:2). Perihal menjadikannya menjadi lagu juga sah-sah saja namun, ada perbedaan mendasar yang perlu diperhatikan (ini akan saya ulas pada poin 2 dan 3).

Interpretasi puisi, maka : prioritas tertinggi adalah pada puisinya, bukan pada upaya menjadikan puisi sebagai lagu yang indah. Adalah tugas komposer untuk menggali potensi musikal, sehingga estetika puisi itu bisa muncul dengan proporsional. Memaknai kata demi kata, bahkan pada spasi, koma, titik, penggalan frasa, semuanya harus sesuai. Sebab, konstruksi puisi tentu diciptakan pengarang sesuai dengan detil nuansa dan rasa yang ingin ia sampaikan. Dapat diperkuat dengan menyelami latar belakang penulis, ini akan membantu membuka wacana mengenai potensi musikal yang mungkin bisa dihadirkan.

 

2.       Apakah harus di-musikalisasi seluruhnya? Atau boleh sebagian?

Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada saya, maka jawaban saya adalah : KESELURUHAN PUISI HARUS DIINTERPRETASIKAN KE DALAM KOMPOSISI MUSIK, jika yang kita sebut adalah "musikalisasi puisi”. Jangan sampai ada bias antara deklamasi, teatrikalisasi, visualisasi puisi. Kita harus tegas dalam memberikan arah dan konsep sajian, agar proses eksplorasi puisi bisa terfokus.

Monggo saja jika ada yang beranggapan bahwa tetap boleh ada puisi yang dibacakan untuk memperkuat makna. Catatan yang mungkin bisa diperkuat bahwa setiap puisi memiliki potensi musikalnya masing-masing. Dengan penguatan musik, maka nuansa, pesan, dan karakter puisi bisa saja lebih “menyala” dibanding ketika dibacakan tanpa musik.

 

3.       Jangan ada tambahan vokal

Ini saya ketahui pada saat mengikuti pelatihan Musikalisasi Puisi di Balai Bahasa Jawa Timur. Bahwa dalam menyusun komposisi, hendaknya kita tidak memasukkan tambahan vokal, seperti yang biasanya ada pada lagu. Misalnya “huhu…..hu…” atau “pararam param”.

Mengapa demikian? Bukankah tambahan vokal itu tidak memengaruhi makna puisi?

Mungkin pada sebagian puisi memang tidak berpengaruh. Namun di zaman sekarang, kecanggihan digital semakin berkembang pesat. Bagaimana jika kita mengunggah video karya musikalisasi puisi di media sosial, kemudian muncul autotext atau subtitle. Bukankah tambahan vokal itu nanti akan muncul dan pada akhirnya akan “menambah” teks pada puisi.













Penambahan vokal tentu akan mengubah “bentuk badan” dari puisi tersebut. Bukankah dalam puisi, kata ah, atau bahkan titik dan koma, yang hanya satu karakter saja, akan menentukan makna dari puisi itu.

Lalu bagaimana cara memberi nuansa yang syahdu dalam puisi? Bukankah penambahan vokal adalah upaya untuk memperindah komposisi musikalisasi puisi?

Inilah salah satu tantangan kita dalam berkarya musikalisasi puisi. Kita wajib memperkaya diri dengan eksplorasi unsur musikal yang bisa disajikan. Pilihannya beragam, bisa dengan memainkan dinamika, adagio, atau tempo. Sejujurnya, ada peserta yang nyaris saya apresiasi dengan nilai sempurna, tetapi saya urungkan ketika tiba-tiba ada penambahan vokal di ujung komposisinya.

 

4.       Pengulangan yang keliru

Masih teringat jelas ketika saya menyimak penyampaian pak Marhalim Zaini di youtube mengenai musikalisasi puisi. Salah satunya adalah bahwa dalam musikalisasi puisi tidak boleh ada refrain seperti pada lagu. Mengapa demikian?

Idealnya, konstruksi puisi terbentuk secara utuh mulai dari judul sampai dengan akhir puisi. Rangkaian ini harus dipatuhi sebagai urutan yang tidak boleh diacak susunannya. Bagi saya ini sangat penting sebab interpretasi puisi juga harus dibarengi dengan kesadaran mengapresiasi, menghargai dan komitmen menaati struktur puisi yang telah disusun oleh pengarang. Jangan lagi ada pengulangan di tengah puisi, atau ini yang sering terjadi: pada bagian yang kita anggap indah, bagus, estetik, kita ulang-ulang agar grafik musiknya juga terpenuhi. Jangan ya dek ya.

Mari belajar memberikan dukungan yang utuh. Kita tidak boleh egois mengobrak-abrik puisi dengan dalih musikal. Seorang penulis puisi pasti memiliki kesatuan bangun ruang yang telah ia kukuhkan agar puisinya sesuai dengan hal yang ingin disampaikan. Lalu bagaimana jika puisinya pendek? Tetap tidak boleh diulang?

Pengulangan diperbolehkan, tetapi harus dari awal puisi sampai akhir. Jadi mengulang satu putaran. Nah, disini bisa kita kembangkan lagi detil musiknya. Beberapa peserta sudah mampu dan memahami perihal ini.

 

5.       Aransemen membangun puisi

Pilihan eksplorasi musik seringkali merakit jebakan lain yang tidak disadari. Sering terjadi ketidakseimbangan antara musik dengan vokal dan artikulasi. Tentu kita masih ingat bahwa vokal menjadi elemen penting agar teks dalam puisi bisa sampai. Namun pada beberapa bagian, sering terdengar adu keras antara keduanya. Jika memang ingin menebalkan elemen musiknya, sesi solo mungkin bisa menjadi pilihan. Banyak sisi musikal yang bisa digali, tidak harus semua unsur selalu mengiringi vokal. Boleh saja ada bagian yang sengaja diisi instrumental, selagi masih dalam rangka memberikan interpretasi proporsional terhadap puisi.

 

6.       Penghayatan oleh seluruh tim

Barangkali hanya 2-3 tim yang saya lihat memenuhi aspek ini. Tugas menginterpretasi puisi bukan hanya milik vokalis saja. Jika dalam tim musikalisasi ada 5-7 orang, maka semuanya pun bertugas menyampaikan puisi dengan penghayatan disesuaikan dengan tugas dan posisi masing-masing. Perlu di pahami kembali bahwa para penampil ini membawakan musik yang bertolak dari sebuah puisi. Setidaknya, nuansa dan rasa bisa dihadirkan melalui ekspresi atau gestur yang selaras dengan alat musik yang dimainkan. Ini memengaruhi performa tim secara utuh.  

 

7.       Konsep artistik

Berkreasi tentu bisa dengan berbagai variasi. Yang perlu diperhatikan sekali lagi bahwa kita sedang menyajikan musikalisasi puisi. Bukan lagu daerah atau pula musik daerah. Perihal identitas asal mungkin masih bisa diterima. Namun pilihan sajian artistik bagi saya menunjukkan pendalaman riset para pelakunya. Katakanlah puisi tersebut bertema alam, banyak potensi artistik yang bisa memperkuat, mungkin dengan warna, motif, ornamen dan elemen lain yang mendukung. Sangat disayangkan jika sajian yang nyaris sempurna, kemudian menjadi terganjal oleh pilihan artistik yang sesungguhnya bisa lebih diputuskan dengan bijak. Opsi yang bisa dikaji mungkin juga beranjak dari pilihan genre musik. Misalnya kita memilih aransemen keroncong, mungkin boleh saja mengenakan setelan jas formal atau kutubaru. Dan sekali lagi, berkarya musikalisasi puisi adalah proses yang kompleks. Meskipun hanya selembar puisi yang kita bawakan, namun saat kita sudah masuk dalam fitur pertunjukan, maka detil-detil pendukungnya harus diperhatikan dengan saksama.

 

Demikian sedikit tentang musikalisasi puisi, yang kami rangkum dari berjalanan berproses dan belajar. Boleh dikoreksi bersama jika ada hal-hal yang bisa kita diskusikan untuk karya-karya yang lebih baik. Semoga kita selalu bersemangat berkarya, berkreasi, bangga berkarya sastra dan berbahasa Indonesia.

Komentar

  1. Luar biasa, daging semua ini....,😁 ditunggu coretan tinta sastra berikutnya. Tetaplah menyalaaa..., 🔥🔥🙌🙌

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR

BOTOL-BOTOL TERAKHIR Karya : Eka Wijayanti             Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan   seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri. Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalel...

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...