Langsung ke konten utama

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR


BOTOL-BOTOL TERAKHIR
Karya : Eka Wijayanti
            Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan  seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri.
Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalela hingga negeri ini dinobatkan sebagai negeri penggemar sampah plastik. Ini adalah aib dan aib ini membuatnya murka. Menteri muda itu menyampaikan bahwa negeri ini harus tersohor sebagai negeri yang indah dan itu tak mungkin jika kita terus memproduksi sampah plastik. Ia menjelaskan juga tentang penguraian botol plastik yang sangat lama karena polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, menurutnya botol plastik memiliki waktu 20 tahun untuk hancur.
Maka dari itu, Menteri Muda membuat peraturan bahwa di negeri ini tak boleh lagi ada botol plastik. Setiap toko, pabrik, orang-orang yang menggunakan botol plastik akan di denda jutaan rupiah. Pemerintah memberikan waktu empat belas hari untuk memusnahkan semua botol plastik yang ada dari seluruh penjuru negeri. Di hari ke lima belas, secara serentak petugas terkait di masing-masing daerah akan menyisir wilayahnya untuk memastikan tak ada lagi botol plastik. Satu saja botol ditemukan, maka hukuman denda sudah siap dikenakan. Satu lagi. Jika tidak mampu membayar denda, maka yang bersangkutan akan diadili dan dimasukkan ke penjara atas tuduhan melanggar peraturan menteri.
Gelombang protes terjadi di berbagai tempat. Perusahaan yang selama ini menggantungkan produknya pada kemasan botol plastik kalang kabut menyikapi kebijakan ini. Tak mungkin dalam empat belas hari mereka akan mengubah grand desaign produknya. Lalu muncul lagi aneka talkshow pro dan kontra tentang kebijakan ini. Dalam sekejap kebijakan ini menjadi viral dan menggema di berbagai media sosial. Sebuah botol, cukup sepele namun mampu menjadikan stabilitas negeri ini goyah. Beragam demo dan protes silih berganti. Blokade jalan dengan pagar botol plastik demo jahit mulut karyawan pabrik botol plastik, menjadi santapan pemberitaan setiap hari. Namun, Menteri Muda itu tetap pada pendiriannya. Tak ada perubahan kebijakan.
Tiga hari berlalu.
Beberapa hal mulai berubah setelah pengumuman kebijakan anti botol plastik. Nampaknya tak sedikit pula yang memilih jalan aman dengan memusnahkan botol plastik yang mereka miliki. Permasalahan kemudian bertambah dengan munculnya asap hasil pembakaran botol plastik milik warga. Laporan pencemaran udara, maraknya penyakit ISPA, muncul di berbagai pemberitaan. Dan tetap tak ada solusi untuk asap tebal ini. Pembakaran terjadi di mana-mana bahkan ada beberapa rumah yang tak sengaja ikut terbakar bersama botol-botol itu. Segera para wartawan mengepung kediaman Menteri Muda itu, bermaksud meminta klarifikasi, mungkin juga pertanggungjawaban atau setidaknya, ungkapan bela sungkawa dan dukacita kepada rakyat yang terkena musibah kebakaran.
Namun jawabnya sungguh mengherankan.
“Kebakaran itu adalah musibah dan resiko masyarakat sendiri. Membakar botol plastik atau tidak membakar botol plastik adalah pilihan rakyat. Kami cuma minta tak ada botol plastik, bukan bakarlah botol plastik. Tak perlu berlebihan. Musibah ini karena keteledoran mereka sendiri, bukan kesalahan pemerintah. Maka bukan jadi keharusan pemerintah untuk menanggung resikonya.”
Segera Menteri Muda ini menjadi bahan nyinyiran di berbagai media. Di mata masyarakat ia dianggap sebagai pejabat yang semena-mena. Masih muda tapi tak memiliki kepekaan terhadap sesama. banyak pihak menilainya sebagai makhluk yang tak paham keribetan yang dialami oleh warga negeri ini. Beragam meme, komentar negatif dan kritikan ditujukan kepada menteri muda. Rakyat semakin resah.
Hari kelima.
Kehebohan terjadi setelah terjadi tawuran antara karyawan warung dan sekelompok mantan pemulung. Nasib para pemulung dengan pekerjaan yang sudah cukup dipandang lemah itu pun kini semakin tak berdaya. Jika sebelumnya botol plastik masih dapat ditukar dengan sejumlah uang. Lima hari belakangan ini hal itu tak mungkin lagi dilakukan. Ketakutan menghantui sebab bisa saja karena sebuah botol, denda akan ditujukan pada mereka.
Sekelompok mantan pemulung ini kemudian luntang-lantung mencari pekerjaan. Tak sedikit yang frustasi, memilih menyerah dan jatuh ke lubang gelandangan. Sepertinya tak ada lagi yang bisa dikerjakan jika bertahan menjadi pemulung. Gerombolan mantan pemulung frustasi ini kemudian menjarah warung makan. Kelaparan tak tertahan membuat mereka gelap mata. Pemilik warung tak terima hingga adu mulut dan pertengkaran tak terhindarkan. Mudah saja mendapatkan senjata berkelahi karena di warung itu semua minuman sudah dikemas dalam botol kaca. Lima orang terluka, dua tewas.
Tetap ini menjadi imbas dari kebijakan anti botol plastik. Gugatan kembali melayang kepada menteri muda. Dapat ditebak, seperti sebelumnya Menteri Muda menjawabnya tanpa beban.
“Siapa yang memberi mereka pekerjaan? Apa yang membuat mereka menjadi pemulung? Anda sendiri, rakyat sendiri kan? Anda beli botol, lalu anda buang, pemulung ini mengambilnya. Jika tak ada botol plastik, mereka tak akan jadi pemulung. Dan siapa yang menyuruh mereka jadi pemulung?  Apakah presiden? Kan bukan! Jadi sekali lagi, ini adalah karena mereka yang kurang gigih mencari pekerjaan. Bukan lagi jadi tanggungan negeri!”
Demikian statement menteri muda itu menggaung sepanjang hari, sementara di tempat lain duka korban tawuran hanya sekejap menarik simpati. Semua orang sibuk menghilangkan jejak jejak botol plastik dari hidupnya. Ini baru hari kelima dan negeri ini sudah cukup porak poranda. Cuma gara-gara botol plastik. Sejumlah relawan dan ilmuwan mulai turun tangan untuk menyampaikan permohonan tinjauan ulang terhadap peraturan anti botol plastik. Aneka riset dan rancangan program disosialisasikan agar  tercipta win win solution. Tapi tak ada satu pun yang sampai ke tangan menteri muda itu. Sampai saja tidak, apalagi di tindak lanjuti. Nihil.
 Hari ketujuh.
Entah pertanda kabar bahagia atau sebaliknya, kudengar hari ini, Menteri Muda itu kembali menggelar konferensi pers. Banyak yang berspekulasi bahwa nampaknya ia mulai menyerah dengan kericuhan yang ada dan mulai berubah pikiran. Tatap tajam menyorot pada layar kaca. Setiap warga menantikan apa yang akan disampaikannya. Beragam dugaan bermunculan di luar sana. Yang pasti, menteri ini berhasil membuat gebrakan di minggu pertama nya bekerja.
Menteri muda itu menegaskan bahwa sudah tujuh hari berlalu. Penetapan hari tanpa botol plastik akan dicanangkan tujuh hari lagi. Menteri muda lalu mengeluarkan secarik kertas. Sebentar kemudian layar lebar menayangkan kertas itu menjadi jauh lebih besar dan jelas. Tertera dengan jelas di kolom judulnya “BLANKO DENDA PEMAKAIAN BOTOL PLASTIK”. Singkat saja kalimat penutupnya bahwa pihaknya telah mencetak blanko untuk disebar kepada masing-masing daerah. Esok lusa akan didistribusikan sehingga pada hari ke lima belas, akan siap untuk diberlakukan.
Rakyat semakin geram. Harapan indah akan tergugahnya hati menteri itu lalu berubah menjadi musibah. Kebijakan itu semakin dirasa menjadikan dada semakin sesak. Geram dan sesak ini menjadi lemah. Letih karena suara rakyat tak sesakti peraturan menteri. Dengan lemas dan sedih hati mereka merenungi nasib diri. Sebegini miriskah hidup di negeri ini.
Hari ke Sembilan.
Cukup aneh, tapi tak ada lagi kepanikan yang berarti. Semua seperti tunduk patuh menerima kebijakan yang ditetapkan oleh negeri. Berjalan ke berbagai sisi, maka tak akan ditemui bahkan satu pun tutup botol yang berkeliaran. Swalayan, toko kelontong, bahkan supermarket pun bersih dari botol plastik. Asap-asap bekas pembakaran pun tak lagi menghiasi langit. Para wartawan memberitakan keajaiban ini ke seluruh media. Dan menteri muda itu tersenyum lebar. Penuh kepuasan dan kebanggaan bahwa ketegasan dan konsistensinya telah membuat program ini berjalan dengan baik.
Hari ke Sebelas
Tiga hari menjelang peresmian negeri tanpa botol plastik. Menteri muda itu nampaknya adalah seorang yang cukup pintar. Ia tak henti mempertanyakan bagaimana bisa rakyat negeri ini bisa berubah dalam sekejap. Bagaimana bisa tak ada satu pun botol plastik yang terdeteksi dari semua tempat. Diam-diam ia mengirim tim investigasi untuk memastikan bahwa di seluruh wilayah memang benar-benar tak ada botol plastik. Mereka menyisir toko-toko, tempat sampah, pembuangan akhir, bahkan menggali kuburan dan menjaring air sungai untuk memastikan bahwa rakyat tak membuang atau menyembunyiikan botol plastik disana. Dan tim investigasi itu tak menemukan apapun.
Hari ke Empat Belas
Pukul Sembilan malam Menteri Muda itu mengumumkan pencanangan Negeri tanpa botol plastik. Ditanda tanganinya pula peraturan bahwa siapapun yang kedapatan memiliki, menyimpan, menyembunyikan botol plastik, maka akan dikenakan denda jutaan rupiah untuk setiap botolnya. Penuh percaya diri ia katakan bahwa berkat peraturan yang dibuatnya negeri ini akan menjadi negeri pertama yang bersih dari botol plastik. Senyum manis mengakhiri pidatonya, cukup senyum manisnya sendiri. Tanpa sambutan bahkan tepuk tangan.
Hari ke Lima Belas
Pagi masih gulita dengan suara jangkerik, ketika mendadak sirine mobil polisi berbunyi. Riuh semakin mengguruh ketika ternyata sirine ini beringinan tak hanya satu, mungkin sejumlah belasan yang bersuara menuju satu titik lokasi rumah mewah bersusun megah. Pemilik rumah itu tampak emosi membukakan pintu rumahnya. Tak ramah pula ia menerima kedatangan petugas kepolisian yang membawa lembar-lembar yang tak asing baginya. Pemilik rumah itu bertanya apa yang terjadi..
“Kami menemukan sesuatu di rumah Anda”, Seorang Polisi berpangkat Letnan menjawab dengan tegas. Lantas petugas kepolisian itu tersenyum sembari menyerahkan lembar-lembar kepada pemilik rumah.
Pemilih rumah menerima lembar itu dan membacanya.
BLANKO DENDA PENEMUAN BOTOL PLASTIK
Begitu bunyinya. Ia terkejut, spontan membawa tubuhnya keluar dari rumah.
Gunung-gunung indah menjulang di sekeliling pagar rumahnya. Beberapa bahkan meluber hingga masuk ke kolam renang. Bau soda, jus buah, teh, kopi, menyemburkan aroma aneh yang menyeruak hingga membuat pemilik rumah itu mual.
Lalu kembang api berhamburan ke langit. Cukup lama hingga matahari muncul perlahan. Balon diterbangkan dengan tulisan romantis. Pemilik rumah mendongakkan kepala menatap huruf-huruf yang terbang dibawa balon-balon helium.
“Terima kasih pak Menteri. Terimalah kenang-kenangan dari kami. Rakyatmu.”
            Purwoasri-Kediri, 15 Juni 2019
Itnaya-jiwake

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...