Langsung ke konten utama

cerpen motivasi



Bu Amy

Bu Amy. Dia adalah Guru Bimbingan Konseling yang belum setahun bekerja di sekolahku. Sebagai jajaran siswa pemberontak, tentu aku masuk dalam kelompok siswa yang menolak kehadiran ia di sekolah. Jelas bahwa guru BK adalah musuh kami. Sejak awal kehadirannya, kami menganggapnya tidak bermutu, dan pasti tak akan sanggup menangani semua masalah kami. Masalahku khususnya. Sebab aku yakin bahwa dia tak mungkin tahu apa yang aku rasakan. Tentang hidupku yang hancur, keluargaku yang semrawut, dia tak akan mungkin mengerti. Dan seperti guru lain, dia pasti akan menjadi guru yang suka dan sering memaki aku.
Seperti sebelum dia datang, hingga kini kami masih rajin melakukan pelanggaran-pelanggaran. Membolos, tak mengerjakan tugas, kabur saat jam pelajaran. Namun, belakangan pelakunya semakin berkurang. Jika biasanya aku bisa bersama dengan 8-10 orang, kini mungkin hanya 3 orang yang masih melakukannya. Suatu malam, saat kami berkumpul, aku baru tahu bahwa mereka -yang tak lagi melakukan pelanggaran itu- telah berhasil di cuci otak oleh bu Amy.
Aku hanya menanggapinya dengan senyum sinis.
Aku yakin ia tak akan bisa melakukan itu padaku. Berulang kali ia memanggilku untuk konseling.  Dan sudah bisa ditebak, hal ini tak mengubah perilaku ku di sekolah. Hingga akhirnya, saat seluruh teman se angkatanku mulai untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan,  aku masih tertahan di sekolah, karena aku masuk dalam jajaran siswa yang tak boleh berangkat.
Ibuku tentu sangat kecewa. Ia datang ke sekolah dan bernegosiasi kepada Ibu Kepala Bidang, namun tetap ditolak. Akhirnya Ibu menumpahkan keluh kesahnya pada Bu Amy. Dan aku, sama sekali tak peduli dengan ini semua.
Hari itu juga, bu Amy langsung mengundangku untuk melakukan konseling.  Beliau lalu bercerita mengenai ayahnya . Kebanggaannya terhadap ayahnya, bagaimana ayahnya mendidik, bagaimana ayahnya memberi kasih sayang.
Hei. Lalu apa maksud dari ini semua? Jelas dia tahu kalau mengingat cerita tentang ayahku , sungguh membuat hatiku terluka. Tapi sepertinya dia tidak peduli, dia terus melanjutkan cerita tentang ayahnya. Aku berpura-pura mendengarkan, padahal tidak sama sekali. Sampai  ia mengakhiri cerita –tentang ayah kebanggaannya-, dan menyampaikan bahwa sesungguhnya, ayahnya telah meninggal sejak ia masih kecil. Lalu melanjutkan cerita tentang bagaimana ayahnya meninggal, dan kesedihan hati saat ditinggalkan oleh ayahnya.
Aku seperti ditampar. Kepedihan di hatiku ternyata  belumlah apa-apa dibandingkan dengan luka hati Bu Amy. Seperti dihipnotis, aku tersihir oleh kata-kata yang disampaikannya padaku. Setiap pertanyaan yang aku utarakan dapat dibalik dengan mudah olehnya. Aku tak mengerti apakah pikiranku yang memang sedang kacau, ataukah memang beliau yang sungguh pandai mengendalikan pikiranku.
Pada intinya, aku menyadari bahwa apa yang menimpa padaku adalah sebuah kenyataan yang harus aku terima dengan jiwa besar.
Tentang ayahku yang tak bertanggung jawab,
Tentang ibuku yang pontang panting sendirian cari uang,
Tentang adik bayiku yang terlantar,
Tentang tunggakan sekolahku yang tak sedikit,
Tentang pelajaranku yang berantakan, dan
Tentang pergaulanku yang sudah tak karuan.
Semua adalah bebanku. Sebab aku adalah lelaki.
Aku seperti bangun dari mimpi gelapku. Titik demi titik pencerahan perlahan menyinari hati dan pikiranku. Aku menyadari betapa besar dosaku pada Ibuku, wanita mulia yang meletakkan harapan akan masa depan keluarga di pundakku. Lalu bayangan ibu merengkuh pikiranku.
Hari ini, Bu Amy telah membuat ku sadar seratus persen. Belum lagi dia bersedia mempertaruhkan dirinya untuk dijadikan sebagai jaminan atas keberangkatanku Praktik Kerja Lapangan. Aku sungguh tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Hal ini pula yang membuatku bersedia menandatangani surat pernyataan bahwa aku akan patuh dan tak akan berulah selama di tempat Praktik.
Semenjak saat itu, hatiku dipegang olehnya. Sosok yang selama ini kubenci berubah menjadi sosok yang sangat kusegani. Selama ini aku telah salah menilainya.
Lalu aku tergerak.
Aku kembali mengumpulkan niat untuk memperbaiki diri. Aku harus mengambil kesempatan ini dengan baik. Besok akan kumulai hari pertamaku di tempat Praktik Kerja Lapangan.
Semua berjalan dengan baik dan lancar. Semangatku mengikuti Praktik Lapangan dengan baik telah membuatku melewati bulan pertama dengan cemerlang. Tentu hal ini tak lepas dari penyampaian bu Amy kepadaku tempo hari. Masih menancap jelas di otakku.
Hingga suatu hari. Ayahku datang lagi, menampar nampar ibuku, menggeledahi rumah, mengambil semua uang di rumah, lalu pergi. Sudah bisa ditebak. Aku hancur lagi.
Malam itu hatiku sangat terluka. Aku pergi ke tempat dulu aku sering nongkrong dan melampiaskan kekecewaan tentang hidupku. Merokok, minum, sampai pagi.
Jelas, pagi harinya tubuhku hanya terbaring lemah bermimpi indah tentang keluarga yang sakinah. Aku mangkir dari jam Praktik Lapangan. Entah berapa lama aku menghabiskan waktu disini. Waktu berlalu hingga tak kusadari tiba tiba Ibuku dan bu Amy telah ada di sebelahku.
Aku mencoba untuk sadar sepenuhnya. Tetapi aku gagal. Lalu Ibu menyuruhku mencuci muka.
Saat itulah aku baru benar-benar sadar, dan mengetahui bahwa aku berada dalam situasi yang sungguh berbahaya.
Aku baru menyadari bahwa di tempatku tidur tadi, aku masih meletakkan belasan puntung rokok, botol minuman keras, dan beberapa barang lain. Oh. Mati Aku.
Sejenak aku mematung di kamar mandi. Aku berpikir akan menjelaskan apa. Terutama pada bu Amy.
Jujur saja, penyebab utama kepanikanku adalah: Kedatangan bu Amy. Aku sungguh tak menyangka dia sampai datang kemari.
Dan, Oh, aku teringat perjanjian itu.
Aku keluar dengan mata sayu dan wajah masih tak berekspresi.
Ibu lalu menangis dan menyanyaiku dengan bertubi tubi.
Tak ada satupun pertanyaan yang aku jawab.
Ibuku lalu panik. Bu Amy lalu menyarankan kami untuk pulang. Dan ibuku menyetujuinya.
Dan tanpa sepengetahuanku, ternyata bu Amy juga mengikutku sampai di rumah.
Ia lalu memintaku untuk berganti seragam, dan mengajakku entah kemana.

Sepertinya ia paham betul bahwa rumah bukanlah tempat yang nyaman untukku menyampaikan semua yang aku rasakan.
Bu Amy lalu berpamitan pada ibuku dan memboncengku dengan motornya. Sepanjang perjalanan, kami saling diam. Pikiranku tak karuan, aku tak tahu nanti harus mengatakan apa kepada Bu Amy. Aku merasa takut, malu, dan marah sekaligus. Kepalaku juga terasa pusing karena minum terlalu banyak. Saat itu, aku berpikir untuk lompat dari motor Bu Amy. Aku melihat kiri kanan, kendaraan cukup ramai, aku mengambil ancang-ancang untuk lompat ketika suasana mulai sepi. Aku juga mengawasi lewat spion. Namun, saat menatap kaca spion itu, aku tak sengaja melihat mata bu Amy berkaca-kaca. Seketika, niatku musnah.
Seolah olah aku menyangka bahwa akulah yang menyebabkan tangis itu mengambang di matanya. Hatiku lalu seperti teriris. Aku teringat lagi pengorbanan-pengorbanan yang sudah dia lakukan untukku. Aku teringat lagi kisah trenyuh tentang ayahnya, dan tentang dia yang telah merelakan dirinya menjadi jaminan atas keberangkatanku. Semua berlari dengan kencang di otakku. Hingga aku tak sadar bahwa kami telah berhenti di sebuah resto.
Genangan air itu sudah tak nampak lagi di mata bu Amy. Wajahnya terlihat rileks. Ia lalu mempersilahkanku duduk.
Di meja itu. Aku masih bimbang. Aku memilih diam dan tak banyak kata. Beberapa kali bu Amy mencoba mencairkan suasana, namun ia pun menyadari kalau itu adalah sia-sia.
Beberapa saat suasana menjadi hening. Aku hanya diam. Pikiranku kalut. Terus terang, yang paling aku takutkan adalah, Bu Amy tak akan mau lagi mendampingiku. Saat ini, dialah satu-satunya orang yang paling mengerti keadaanku. Namun, aku telah membuatnya kecewa. Aku yakin pasti dia tak akan memaafkan aku.
Lalu aku menangis.
Bu Amy memberikan tissue. Tapi air mataku tidak mau berhenti. Lalu ia mendekat. Menepuk pundakku. Dan memberiku nasehat.
Tanpa aku bicara, dia sudah memahami isi hatiku. Dia memaafkan aku, dan dia masih mempercayai aku. Tetapi kali ini, dia sudah tidak dipercaya lagi oleh Ibu Kepala Bidang.
Dan bu Amy menyodorkan Surat Peringatan.
Isinya adalah kesempat anku hanya tinggal satu kali. Satu kali, atau aku tak bisa bersekolah lagi. Hatiku seperti disambar petir.
Bu Amy meyakinkan aku bahwa aku adalah lelaki yang kuat. Sekali lagi bu Amy membuatku percaya kepada kemampuan diriku sendiri. Membuatku sadar, bahwa seharusnya aku bisa lebih kuat dan tegar dalam menghadapi masalah keluargaku. Dan dalam hati, aku berjanji bahwa mulai hari ini, aku tak akan mengecewakan mereka lagi. Ibu, dan bu Amy.
Perubahan besar telah terjadi dalam hidupku. Salah satu orang yang berjasa, tentu adalah sosok Guru yang selama ini telah memperjuangkan ku. Bukan hanya memperjuangkan hak bersekolah, tetapi juga memperjuangkan kemandirian, serta ketegaran dalam menghadapi permasalahan hidup. Dari Bu Amy aku belajar banyak hal, bahwa hidup adalah belajar dan belajar harus dilakukan sepanjang hidup.
Dan hari ini, kudengar bu Amy akan pindah. Ia mengabdi di sebuah pulau nun jauh disana, ribuan kilometer dari tempatku berada. Ia pergi  sebelum aku mengucapkan terima kasih. Ia pergi sebelum aku mengucapkan permohonan maaf. Namun, ia pergi membawa beribu doa yang mengalir dari anak-anak yang dikasihinya. Ia pergi dengan meninggalkan kemuliaan budi yang tertanam di hati murid-muridnya.  Semoga sukses dan diberi jalan terang oleh Tuhan Bu.
Doakan juga aku disini.
.

Malang, 19  November 2015
Itnaya Jiwake

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR

BOTOL-BOTOL TERAKHIR Karya : Eka Wijayanti             Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan   seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri. Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalel...

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...