NASKAH DRAMA
“BINTANG GERILYA”
Adaptasi kisah perjuangan Hamid Rusdi dan
Soekesi, dkk
Sumber : artikel “Wanita Perkasa di
Perang Kemerdekaan”
karya Rudi Satrio Lelono posted by Malang
Voice
Dramatic Personae
1. Geetrada
Josephine Schwarz (Siti Fatimah)
2. Soeprapti
(ibu Prapti)
3. Soekesi
4. Tutuk
Rukamah
5. Komariah
6. Marhati
7. Suratmi
8. Petty
9. Darmanti
10. Sukirman
TREATEMENT/ ALUR CERITA
Pembukaan
Lighting Biru. Koreografi
sekelompok wanita menggunakan peralatan dapur, menggambarkan aktivitas malam
hari di markas Seksi Wanita.
Kemudian Black Out, musik tegang
mengalun
BABAK 1
Panggung gelap. Perlahan datang
Soekesi membawa lampu pijar. Nampak mengendap-endap, menunggu seseorang. Tak
lama kemudian Darmanti datang.
Darmanti : Sukesi !
1.
Soekesi :
Bu Dar, bagaimana bu?
2.
Darmanti :
Ini cepat kamu sampaikan ini kepada Prapti. Saya harus segera kembali.
3.
Soekesi :
Baik bu. Hati-hati
4.
Darmanti :
(Beranjak pergi lalu kembali menemui Soekesi)
5.
Soekesi :
Ada apa bu?
6.
Darmanti :
Sembunyikan itu
7.
Soekesi :
Surat ini bu?
8.
Darmanti :
Iya, masukkan di pantatmu. Jaga-jaga kalau di perjalanan ada pasukan Belanda.
9.
Soekesi :
Baik bu
10.
Darmanti :
Sini, saya bantu (Darmanti dan Soekesi memasukkan surat ke dalam pakaian
Soekesi)
11.
Darmanti :
(memegang pundak Soekesi)
Aku percayakan
padamu, ini pesan yang sangat penting. Keadaan semakin membahayakan. Hati-hatilah
12.
Soekesi :
Baik bu. Saya pamit dulu.
Lampu Black
Out.
BABAK 2
Lampu fade in. Markas Siaga Wanita di
Sumberpucung. Para aggota Seksi Wanita sedang melakukan latihan Beladiri.
Latihan ini kemudian diakhiri dengan doa bersama dan koordinasi yang dipimpin
oleh Soeprapti.
13.
Soeprapti :
Komariah, bagaimana hasil pengamatan di Wilayah Kauman?
14.
Komariah :
sementara ini belum ada informasi penting Bu. Hanya saja stok beras untuk
pasukan disana semakin menipis.
15.
Soeprapti :
Baik, segera kordinasikan dengan bagian logistik. Jangan sampai pasukan
kelaparan. Marhati, bagaimana dengan wilayah Kasin?
16.
Marhati :
aman bu. Semuanya masih dalam kendali.
17.
Soeprapti :
sudah kau sampaikan persediaan obat nya?
18.
Marhati :
Sudah bu.
19.
Soeprapti :
Baik. Suratmi, dan Tutuk, ada perkembangan informasi apa?
20.
Suratmi :
Maaf bu, kemarin kami terlambat sampai lokasi. Sepertinya Belanda juga telah
mengirim mata-mata bu
21.
Soeprapti :
Mata-mata? Bukankah semua sudah dibereskan kemarin?
22.
Tutuk :
Benar bu, tapi kali ini, mata-matanya adalah penduduk pribumi bu. Dari warga
daerah Kendalpayak.
23.
Soeprapti :
Kendalpayak? Baiklah, kita tunggu kedatangan Soekesi. Mari kita lanjutkan
aktivitas. Tetap siaga.
24.
Semua :
Baik bu.
Para wanita
beraktivitas biasa, ada yang merapikan pakaian, membersihkan lantai, menata
buku, menyortir perlengkapan rawat luka, dan mengisi kendi minuman.
Soekesi lalu datang dengan membawa
surat.
25.
Soekesi :
Surat baru datang!
26.
Soeprapti :
Cepat, bacakan Soekesi!
27.
Soekesi :
Pengumuman. Sehubungan dengan bocornya rahasia pasukan yang
disebabkan
oleh adanya mata-mata pribumi, maka mulai hari ini seluruh
pasukan wajib
menggunakan osob kiwalan, alias boso walikan untuk
berkomunikasi.
Siaga dan sebarkan.
28.
Soeprapti :
Baiklah, seluruh anggota Siaga Wanita. Segera, sampaikan menyampaikan
informasi mengenai boso walikan kepada pasukan di wilayah Kasin, Dinoyo,
Sumberporong, dan Turen bersiap dan LADUB!!
Seluruh anggota
Siaga Wanita bersiap melaksanakan tugas, berganti pakaian untuk menyamar dan
menyebarkan informasi. (lagu Osob Kiwalan)
29.
Soeprapti :
Sebarkan informasi ke seluruh pasukan. Ingat semboyan kita,
“mata telinga tetap terjaga, gerilya dengan hati dan jiwa!”
Berangkatlah pasukan Siaga Wanita!
Seluruh pasukan
berangkat, tinggal Soeprapti dan Soekesi.
30.
Soekesi :
Apa situasi sudah amat membahayakan Ibu?
31.
Soeprapti :
Tenanglah Soekesi. Kita harus tenang. Tugas kita sebagai tim siaga wanita
adalah membantu para pejuang, dengan tetap tenang dan berpikir jernih.
32.
Soekesi :
Baik bu, semoga Tuhan selalu bersama dengan langkah dan upaya kita.
Siti Fatimah
datang, tampak gelisah.
33.
Soeprapti :
Nyoya Rusdi? Bagaimana bisa sampai disini?
34.
Geetrada :
Tadi pasukan mengantarku sampai depan.
35.
Soeprapti :
Silahkan duduk Nyoya, biar saya buat kan minum.
36.
Geetrada :
(mencegah Soeprapti) Tak usah Prapti.
37.
Soeprapti :
Tetapi Anda nampak pucat, apa Nyoya sakit?
38.
Geetrada : Tidak. Aku cuma… sejujurnya perasaanku tak
enak, aku ingin ikut bersama
suamiku. Ayo antarkan aku Soeprapti.
39.
Soeprapti :
Maaf Nyonya, saya tidak bisa mengantar jika tidak ada perintah.
40.
Geetrada :
Tapi hatiku tak tenang Prapti!
41.
Soeprapti :
Ikhlaskan Nyonya, biarkan dia pergi.
42.
Geetrada :
Kau tak tahu bagaimana perasaanku, sebagai seorang istri yang ingin ikut
berjuang, tetapi tak tahu harus berbuat apa.
43.
Soekesi :
Lha wong situ orang Londo, mau ngapa-ngapain juga susah
44.
Soeprapti :
Kesi, masuklah, buatkan Nyonya Rusdi teh hangat.
45.
Soekesi :
Baik bu.
46.
Geetrada :
Aku pun masih tak mengerti kenapa kalian masih bersikap seperti itu
kepadaku.
47.
Soeprapti :
Itu hanya masalah waktu Nyonya. Lama-lama Nyonya juga akan terbiasa.
48.
Geetrada :
Maksudmu? Terbiasa apa? Dipandang dengan penuh kebencian? Dicibir
dengan penuh makian?
49.
Soeprapti :
Nyonya harus kuat. Kita harus kuat. Bangsa ini sedang membutuhkan wanita-
wanita yang kuat seperti kita. Jangan sampai para pejuang di tanah ini
semakin
terpuruk karena kita menjadi lemah.
50.
Geetrada :
Lalu apa yang bisa aku lakukan Prapti? Dengan tubuhku yang Belanda ini,
orang-orang tak mau tahu tentang hatiku. Bahwa sebenarnya jiwaku, darah
dari ibuku adalah suci, untuk negeri ini.
51.
Soeprapti :
Nyonya adalah istri Mayor Hamid Rusdi, seorang pejuang sejati. Maka seorang
Mayor pun menjadi kuat karena ada jiwa Nyonya, cinta Nyonya di dalam
hatinya. Itulah yang sudah kau lakukan Nyonya.
52.
Geetrada :
Tapi sungguh tak adil jika suamiku tak pernah memberitahuku, kemana dia
pergi.
53.
Soeprapti :
Inilah perang gerilya Nyonya. Mayor tak ingin keberadaan para pasukan,
bahkan keberadaan Nyonya sampai tercium oleh Belanda.
54.
Sukirman :
Tolooong….
55.
Soeprapti :
Oh, ada apa ini?
(Soekesi masuk
dan terkejut melihat Sukirman yang tubuhnya terluka)
56.
Soekesi :
Kang Kirman?
57.
Soeprapti :
Biar aku ambil perlengkapan
58.
Soekesi :
Ada apa ini kang?
59.
Sukirman :
Ada.. ini.. hh.. h.. (dengan nafas tersengal)
60.
Geetrada :
Minumlah dulu supaya tenang
Soeprapti dan
Geetrada merawat luka Sukirman
61.
Sukirman :
Gawat ini yu Prapti. Saya tadi diserang oleh orang tak dikenal.
62.
Soeprapti :
Di persembunyianmu?
63.
Sukirman :
Iya yu. Padahal saya sudah mengintai dengan bersembunyi, sesuai perintah.
64.
Soeprapti :
Oh, baiklah, tenanglah dulu Kirman. Lukamu akan segera pulih.
65.
Geetrada :
Biar saya ambilkan sedikit makanan
66.
Soeprapti :
Saya tinggal cuci tangan dulu. Soekesi, temani Kirman.
67.
Soekesi :
Kang Kirman tidak apa-apa?
68.
Sukirman :
Ya kenapa-napa dik, sampai berdarah begini.
69.
Soekesi :
Maaf kang, jangan marah,
70.
Sukirman :
Siapa yang marah dik, tenanglah. Aku sudah membaik. Apalagi setelah
bertemu kamu.
71.
Soekesi :
Kang Kirman ini … (tak sengaja menyentuh bagian yang sakit)
72.
Sukirman :
Auw…
73.
Soekesi :
Maaf Kang, tidak sengaja
74.
Sukirman :
Tenanglah, sakit ini adalah pengorbananku buat negara kita. Tak begitu sakit.
Ayas tahes
kok. Karena aku sudah bertemu kamu dik..
75.
Soekesi :
Maksudnya Kang?
76.
Sukirman :
Wanita-wanita yang perkasa dan kuat seperti kamu, yang membuat kami lebih
kuat, bersemangat walau harus mati sekalipun.
Sukirman dan
Soekesi saling memandang (lagu pinangan), Beberapa anggota Siaga Wanita,
Geetrada dan Soeprapti datang, semua salah tingkah.
77.
Soeprapti :
Jadi, bagaimana situasi disana Kirman?
78.
Sukirman :
Saya rasa, kita harus segera bergerak cepat, daerah sini semakin tidak aman.
79.
Soeprapti :
Baiklah, Kirman dan Soekesi bergegaslah ke rumah dokter Sutopo, agar luka
Kirman bisa
segera ditangani. Dan semua, kita harus segera berkemas.
Bereskan semua
perlengkapan yang penting. Cepat, bergegaslah
Semua tim Siaga
Wanita bergegas, musik tegang dan makin mengeras. Hingga kemudian terdengar
suara rentetan tembakan, mereka panik, bergegas pergi. Namun Geetrada
bersikeras untuk tetap tinggal di markas
80.
Petty :
Kita harus bergegas Nyonya
81.
Geetrada :
Tidak, aku harus menunggu suamiku.
82.
Marhati :
Nanti Mayor pasti akan menyusul, seperti biasanya.
83.
Geetrada :
Kalian pergilah, aku akan menunggu suamiku disini.
84.
Marhati :
Disini sudah tidak aman Nyonya
85.
Geetrada :
Lalu bagaimana dengan kemanan suamiku?
Geetrada dan Marhati saling
berdebat
86.
Soeprapti :
Nyonya! Kau harus ikut bersama kami.
87.
Geetrada :
Tidak, pergilah, aku bisa menjaga diriku sendiri.
88.
Soeprapti :
Ini adalah perintah Nyonya. Mayor sendiri yang meminta saya untuk menjaga
semua wanita
di sini. Termasuk Anda.
89.
Geetrada :
Aku bukanlah tanggung jawabmu. Kau dan pasukanmu pergilah aku akan…
90.
Soeprapti :
Bagaimana jika itu adalah permintaan terakhir Mayor?
Bagaimana jika
itu adalah keinginan hatinya untuk menjagamu Nyonya?
91.
Geetrada :
Tidak Prapti, Mayor pasti menang. Mayor pasti kembali…
92.
Komariah :
Tunggu! Maaf Bu Prapti, ada surat dari pasukan yang berada di Wonokoyo
93.
Soeprapti :
Wonokoyo? (sambal membuka surat)
Teruslah
berlari, temukan persembunyian. Kami sudah terkepung,
Letda Ismail,
pak Abdul Razak, dan Mayor Hamid Rusdi telah gugur. Sematkan
doa untuk
gerilya kami.
94.
Geetrada :
Innalillahi wainna illaihi Rojiun…..Rusdi...
Mengapa
begitu cepat kau pergi
Apa kau masih bisa mendengarku Rusdi?
Selamat jalan Rusdi,
Biarkan
aku menyampaikan ini,
Yang
tak sempat kubicarakan kepadamu.
Rusdi,
Aku mencintaimu......
95.
Soeprapti : Darah tergenang adalah bukti
Luka
luka adalah janji
Biar
terkenang apa yang pergi
Disini kita tetap tegak
bersama
mata telinga tetap
terjaga,
gerilya dengan hati
dan jiwa
Sumpah janji demi
negeri, ikrar kami, sang Bintang Gerilya!!
Musik lantang keras melambangkan kobaran semangat, lampu meredup.
--TAMAT--
Komentar
Posting Komentar