Langsung ke konten utama

KENAPA HARUS “LONTONG?”

Sesi Foto bersama salah satu juri, Deddy Mizwar

 Jika ditanya, mengapa memilih judul ini untuk dijadikan sebagai film pendek dengan tema moderasi beragama?  Barangkali, sebagian orang mengira jawabannya adalah ‘supaya bikin orang penasaran dan beda dari yang lain’. Bisa dimengerti sebab memang agak aneh mengaitkan Moderasi Beragama dengan Lontong. Dimana moderasi nya?

Sesungguhnya, dalam realita, alasan pemilihan judul Lontong ini cukup sederhana. Sebelum-sebelumnya kami dan tim Moderasi Beragama, memang sudah mencari tahu tentang bentuk dan wujud moderasi beragama melalui sikap menghargai budaya lokal, salah satunya adalah budaya kuliner. Dan kemudian, naskah ini mengalir begitu saja dengan beberapa sentuhan detil yang mengantar pada penyampaian pesan toleransi. 

Alasan sederhana lainnya, sekadar bagaimana kami bisa membuat film yang dilaksanakan di madrasah. Mengingat terbatasnya waktu dan sudah mulai sungkan kalau berkali-kali dispen ninggal pelajaran. 

Beberapa poin penting juga coba kami cerminkan dalam elemen yang membangun film ini.

1. Perbedaan pendapat yang harus diselesaikan dengan bijak

Mengapa Ahmad memutuskan membeli soto? Bukankah dia cukup mengingatkan Rohman supaya tidak ribut dengan penjual soto?

Meski Ahmad berbeda pendapat dengan Rohman yang tak mau makan lontong, ia tetap menjaga supaya keadaan tidak semakin buruk. Ia meredam konflik dengan membeli soto, agar penjual soto juga tidak kecewa. Ahmad juga menjawab dengan bijak ketika penjual soto bertanya tentang Rohman yang tidak mau lontong.

Melalui peristiwa ini, kita dapat merefleksi bahwa konflik adalah hal yang lumrah, namun juga memerlukan pemikiran jernih serta kesabaran untuk menghadapinya. Utamanya konflik yang berkaitan dengan perbedaan pemahaman.

2. Sifat dan pemikiran ekstrem yang kadang tidak disadari

Mungkin banyak yang merasa aneh dengan tokoh Rohman yang tidak mau makan lontong. Apakah dalam keseharian memang ada sosok se-aneh itu? Apakah memang nyata ada pemikiran se-fanatik itu?

Disadari atau tidak, terkadang ada beberapa manusia yang memiliki pemikiran yang tidak kita pahami. Misalnya, ada orang yang harus makan pakai sendok warna oren, atau orang yang tak doyan ayam, tapi cuma mau sate ayam. Rohman adalah simbol keragaman individu dalam masyarakat, yang mungkin terlanjur mempunyai kebenaran sendiri. Kebenaran sepihak ini  bisa saja mengarah pada pemikiran ekstrem yang dirasa aneh dan tidak masuk akal.

Di sinilah peran kita sebagai sesama manusia untuk menjadi moderat. Mengupayakan pendekatan humanis agar  prinsip kerukunan dan perdamaian bisa terwujud.

3. Pemuda dan pelajar, agen pelopor dialog moderasi beragama

Aktivitas moderasi beragama hadir bukan hanya karena ada kompetisi film, atau lomba-lomba lainnya. Kami menyadari sepenuhnya bahwa menjadi tim moderasi beragama adalah hal yang tidak mudah. Di tengah abai nya para Gen Z yang cenderung “tidur” saat kami orasi tentang moderasi beragama, kami terus mencari cara. Cara menyajikan nuansa moderasi beragama yang menarik, inovatif, dan mengena. Jadi, tim moderasi beragama, ruang moderasi beragama beserta segala aktivitasnya, bukan sekedar “gimmick” yang kami hadirkan untuk memenuhi syarat film pelajar pelopor moderasi. Kami benar-benar ada, dan hadir, meski dengan berbagai jatuh bangun untuk berbenah dan terus mencari upaya mengabdi kepada negeri.

Barangkali, banyak juga yang menilai, bagaimana bisa film dengan keterbatasan teknik seperti film “Lontong” bisa menembus predikat film terbaik?

Kami pun mengakui masih banyak kekurangan dalam film ini. Dari segi pengambilan gambar, editing, transisi, memang perlu banyak berbenah. Namun, dengan mendapat predikat film terbaik juga tidak begitu saja membuat kami membusungkan dada dan merasa sempurna.

Usai penganugerahan, kami berusaha mengejar Juri untuk bertanya dan meminta kritik saran. Sebetulnya ada juga rasa penasaran kami, “apa yang membuat film ini layak menjadi yang terbaik?”

Dialog ringan terjadi natural ketika kami menunggu jemputan angkutan online. Merangkum evaluasi dari juri, bahwa inti dari sebuah film adalah pada skenario. Deddy Mizwar menyampaikan bahwa “Kalau skenarionya baik, teknis seburuk apapun tetap bisa jadi bagus. Sebaliknya, jika skenarionya lemah, teknik sehebat apapun tidak akan bisa menolong," 

Sehingga, kami berprasangka baik bahwa nilai dan simbol yang tulus dan nyata kami bawakan dalam menyusun naskah, sampai pada pembuatan film ini adalah hal yang tersampaikan dengan jelas.

Tentunya, semua anugerah ini adalah atas izin Allah SWT, dan kerja keras seluruh tim yang mendukung.

Tetap semangat menjadi generasi moderat!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR

BOTOL-BOTOL TERAKHIR Karya : Eka Wijayanti             Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan   seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri. Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalel...

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...