Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

BRAIN ROOT MEMAHAMI SINYAL ASMARA DI DUNIA MAYA

  Ritual menampar hati yang baperan dan penuh asumsi  by : Itnaya Jiwake Disclaimer yang perlu disampaikan, bahwa ini adalah murni sudut pandang penulis. Bukan selaku ahli asmara, ataupun konsultan hati seperti yang ramai di media. Setidaknya, pengalaman giat mendengar dan mempelajari situasi selama seperempat dekade, mungkin cukuplah untuk membuat pasal-pasal ini teryakini. Diperkuat dengan alibi-alibi berbasis fakta yang sulit untuk dipungkiri. Besar dengan peralihan serba manual ke digital, rasanya kami sebagai kaum milenial mengalami transisi yang sangat dinamis. Salah satunya, menyikapi perihal asmara. Betapa standar kode dan sinyal sudah berubah jadi semakin membingungkan. Setidaknya, ada 3 p(asal) yang ingin saya kemukakan. Mohon maaf barangkali bagi sebagian yang relate, ini akan sedikit (atau mungkin sangat) menyakitkan. Tetapi, ada baiknya menampar diri sendiri dulu lebih awal. Ketimbang menunggu ditampar orang lain, yang mungkin malunya bisa tertahan sampai ...

Ketulusan : Estetika memahami Harmoni berujung Sakit Hati

 Sesekali mungkin hatimu pernah tergerak untuk memulai ketulusan pada seseorang. Tulus yang begitu saja datang tanpa ada sebab. Tulus yang murni datang tanpa perlu ditanya, perlukah melakukan ini? Barangkali, kebiasaan hatimu memang demikian. Seperti mudah saja memberikan apa yang kamu bisa. Mengusahakan agar pinta yang dikata segera menjadi realita. Orang orang akan berterimakasih. Dan kau, bahagia bukan?  Dari terimakasih itu, hatimu kemudian tergerak untuk semakin melakukan kebaikan kebaikan. Yang tanpa sadar menyisipkan harapan bahwa kelak, kebaikan ini akan menjadi bunga bermekaran di taman amalmu. Rumusan logika klasik yang masih kita pedomani, namun sayangnya jarang kita maknai dengan presisi. Di zaman ini, ketulusan bukan lagi “barang” yang bisa dijual dengan “mahal”. Mata batin dan kepekaan yang hambar telah membuat manusia manusia mulai menaruh pemberian berlian sebagai bare minimum kasih sayang. Ketulusan memberi waktu, jadi tak bermakna karena yang diingini adalah ...

BOOK OF ENLIGHTENMENT “Seni Menegur Arogansi melalui Ayat Pengendali Asumsi”

  Perjalanan melangkahi zaman telah tiba pada masa yang super aneh. Persatuan bumi yang dihuni oleh ragam makhluk yang di kelaskan dalam sebutan “generasi”. Bercampur baur pada semburat kedalaman kemampuan mencerna gelagat teknis dan geliat dunia. Titik mula berpikir, jalan awal berlogika saling menabrak. Mendebat kebenaran yang idealistik sesuai keakuan masing-masing. Situasi pelik yang lalu bertansformasi menjadi sebentuk penjara nirmana, dan kemudian disebut dengan “arogansi”. AYAT 1 : Semua akan kalah dengan kehendak Tuhan, hanya kehendak Tuhan yang paling Absolut. Canda tawa manusia mengelukan kemampuan diri, menghadang kesulitan hidup. Menggugat ketidaksesuaian harapan dan kenyataan. Lalu membutakan naluri tentang bagaimana penciptaan hakiki. Berpasrah tentu bukan jalan yang mengakhiri gelisah, namun menantang garis takdir juga cukup berbahaya dan ‘berangasan”. Konsep mengimani takdir semakin dikaburkan oleh pemaknaan jalan hidup yang serba tentatif. Kadangkala menjadi jebaka...