Ritual menampar hati yang baperan dan penuh asumsi by : Itnaya Jiwake Disclaimer yang perlu disampaikan, bahwa ini adalah murni sudut pandang penulis. Bukan selaku ahli asmara, ataupun konsultan hati seperti yang ramai di media. Setidaknya, pengalaman giat mendengar dan mempelajari situasi selama seperempat dekade, mungkin cukuplah untuk membuat pasal-pasal ini teryakini. Diperkuat dengan alibi-alibi berbasis fakta yang sulit untuk dipungkiri. Besar dengan peralihan serba manual ke digital, rasanya kami sebagai kaum milenial mengalami transisi yang sangat dinamis. Salah satunya, menyikapi perihal asmara. Betapa standar kode dan sinyal sudah berubah jadi semakin membingungkan. Setidaknya, ada 3 p(asal) yang ingin saya kemukakan. Mohon maaf barangkali bagi sebagian yang relate, ini akan sedikit (atau mungkin sangat) menyakitkan. Tetapi, ada baiknya menampar diri sendiri dulu lebih awal. Ketimbang menunggu ditampar orang lain, yang mungkin malunya bisa tertahan sampai ...
sedikit kulakan asmara untuk jualan kata-kata