Sesekali mungkin hatimu pernah tergerak untuk memulai ketulusan pada seseorang. Tulus yang begitu saja datang tanpa ada sebab. Tulus yang murni datang tanpa perlu ditanya, perlukah melakukan ini?
Barangkali, kebiasaan hatimu memang demikian. Seperti mudah saja memberikan apa yang kamu bisa. Mengusahakan agar pinta yang dikata segera menjadi realita. Orang orang akan berterimakasih. Dan kau, bahagia bukan?
Dari terimakasih itu, hatimu kemudian tergerak untuk semakin melakukan kebaikan kebaikan. Yang tanpa sadar menyisipkan harapan bahwa kelak, kebaikan ini akan menjadi bunga bermekaran di taman amalmu. Rumusan logika klasik yang masih kita pedomani, namun sayangnya jarang kita maknai dengan presisi.
Di zaman ini, ketulusan bukan lagi “barang” yang bisa dijual dengan “mahal”. Mata batin dan kepekaan yang hambar telah membuat manusia manusia mulai menaruh pemberian berlian sebagai bare minimum kasih sayang. Ketulusan memberi waktu, jadi tak bermakna karena yang diingini adalah menemani sepanjang waktu. Ketulusan memberi perhatian, jadi tak berharga karena yang dielukan adalah materi dan keuntungan. Dan banyak lagi, ragam ketulusan lainnya yang sudah tak bernilai. Terdistorsi standar zaman yang semakin tak karuan.
Lantas, apa mungkin kita bisa berhenti menjadi orang tulus? Pada akhirnya, beberapa orang yang kapok tentunya akan menyerah. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Efisiensi pembalasan budi sebaiknya dikembalikan saja pada harga yang setimpal.
Namun, orang-orang yang kadung memiliki setelan pabrik khusus, standar tulus jadi titik balik setiap gerak laku yang diurus. Berkali-kali menelan sabar meski ditipu dan ditikung. Belum lagi POV netizen yang memandang mereka sebagai orang bodoh, dan diprediksi akan semakin bodoh jika terus terusan menjadi tulus.
Tentu saja, ada sisi yang tak bisa dipahami banyak orang tentang fenomena ini. Tidak semua orang-orang tulus memiliki selera harmonisasi yang sama. Luka dan pedihnya dikhianati kenyataan mungkin akhirnya membuat mereka diam seribu bahasa. Tapi pada kelainan yang akut, derita terluka karena tulusnya dibalas luka, malah jadi manifestasi berharga untuk menanam ketulusan berikutnya.
Lalu bagaimana jika kadung terjebak menjadi orang yang serba tulus?
Baik-baiklah pada dirimu. Resiko orang tulus memang seringkali agak-agak mampus. Biarkan tulusmu tetap menjadi sisi yang halus, tapi imbangi dengan menata benteng keridhoan agar ia berdiri dengan tatag. Berbarengan dengan niat tulusmu yang terotomasisasi di setiap amalmu, sisipkan logika logika tengil tentang perihal yang mungkin terjadi.
Lalu bersiaplah pada semuanya, dan ingat saja. Tuhan selalu mencatat.
Komentar
Posting Komentar