Langsung ke konten utama

Ketulusan : Estetika memahami Harmoni berujung Sakit Hati

 Sesekali mungkin hatimu pernah tergerak untuk memulai ketulusan pada seseorang. Tulus yang begitu saja datang tanpa ada sebab. Tulus yang murni datang tanpa perlu ditanya, perlukah melakukan ini?

Barangkali, kebiasaan hatimu memang demikian. Seperti mudah saja memberikan apa yang kamu bisa. Mengusahakan agar pinta yang dikata segera menjadi realita. Orang orang akan berterimakasih. Dan kau, bahagia bukan? 

Dari terimakasih itu, hatimu kemudian tergerak untuk semakin melakukan kebaikan kebaikan. Yang tanpa sadar menyisipkan harapan bahwa kelak, kebaikan ini akan menjadi bunga bermekaran di taman amalmu. Rumusan logika klasik yang masih kita pedomani, namun sayangnya jarang kita maknai dengan presisi.

Di zaman ini, ketulusan bukan lagi “barang” yang bisa dijual dengan “mahal”. Mata batin dan kepekaan yang hambar telah membuat manusia manusia mulai menaruh pemberian berlian sebagai bare minimum kasih sayang. Ketulusan memberi waktu, jadi tak bermakna karena yang diingini adalah menemani sepanjang waktu. Ketulusan memberi perhatian, jadi tak berharga karena yang dielukan adalah materi dan keuntungan. Dan banyak lagi, ragam ketulusan lainnya yang sudah tak bernilai. Terdistorsi standar zaman yang semakin tak karuan.

Lantas, apa mungkin kita bisa berhenti menjadi orang tulus? Pada akhirnya, beberapa orang yang kapok tentunya akan menyerah. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Efisiensi pembalasan budi sebaiknya dikembalikan saja pada harga yang setimpal. 

Namun, orang-orang yang kadung memiliki setelan pabrik khusus, standar tulus jadi titik balik setiap gerak laku yang diurus. Berkali-kali menelan sabar meski ditipu dan ditikung. Belum lagi POV netizen yang memandang mereka sebagai orang bodoh, dan diprediksi akan semakin bodoh jika terus terusan menjadi tulus.

Tentu saja, ada sisi yang tak bisa dipahami banyak orang tentang fenomena ini. Tidak semua orang-orang tulus memiliki selera harmonisasi yang sama. Luka dan pedihnya dikhianati kenyataan mungkin akhirnya membuat mereka diam seribu bahasa. Tapi pada kelainan yang akut, derita terluka karena tulusnya dibalas luka, malah jadi manifestasi berharga untuk menanam ketulusan berikutnya.

Lalu bagaimana jika kadung terjebak menjadi orang yang serba tulus?

Baik-baiklah pada dirimu. Resiko orang tulus memang seringkali agak-agak mampus. Biarkan tulusmu tetap menjadi sisi yang halus, tapi imbangi dengan menata benteng keridhoan agar ia berdiri dengan tatag. Berbarengan dengan niat tulusmu yang terotomasisasi di setiap amalmu, sisipkan logika logika tengil tentang perihal yang mungkin terjadi.

Lalu bersiaplah pada semuanya, dan ingat saja. Tuhan selalu mencatat. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR

BOTOL-BOTOL TERAKHIR Karya : Eka Wijayanti             Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan   seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri. Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalel...

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...