Perjalanan melangkahi zaman telah tiba pada masa yang super aneh. Persatuan bumi yang dihuni oleh ragam makhluk yang di kelaskan dalam sebutan “generasi”. Bercampur baur pada semburat kedalaman kemampuan mencerna gelagat teknis dan geliat dunia. Titik mula berpikir, jalan awal berlogika saling menabrak. Mendebat kebenaran yang idealistik sesuai keakuan masing-masing. Situasi pelik yang lalu bertansformasi menjadi sebentuk penjara nirmana, dan kemudian disebut dengan “arogansi”.
AYAT 1 : Semua akan kalah dengan kehendak Tuhan, hanya kehendak Tuhan yang paling Absolut.
Canda tawa manusia mengelukan kemampuan diri, menghadang kesulitan hidup. Menggugat ketidaksesuaian harapan dan kenyataan. Lalu membutakan naluri tentang bagaimana penciptaan hakiki. Berpasrah tentu bukan jalan yang mengakhiri gelisah, namun menantang garis takdir juga cukup berbahaya dan ‘berangasan”.
Konsep mengimani takdir semakin dikaburkan oleh pemaknaan jalan hidup yang serba tentatif. Kadangkala menjadi jebakan untuk larut dalam kemunduran berikhtiar, atau bahkan justru berhamburan berkeliaran menjadi egrang yang meninggikan kesombongan sambil menepuk dada. Belum lagi, kehadiran pihak pihak yang mencari nama, berburu validasi berdalih kitab-kitab yang dimanipulasi, sehingga ketenangan dan perenungan diri kian terdistorsi.
Mana sering kini kita menemui jiwa-jiwa yang sanggup mengakui kekalahan. Menghias penerimaan akan kehendak yang Maha Absolut. Memaknai dengan bijak tentang bahagia dan derita melalui sisi-sisi yang multidimensi. Ketajaman intuisi, keliahaian berspekulasi tidak lagi diimbangi dengan kemampuan meriset dan merefleksi. Ceplas ceplos saja memberi aksi. Tanpa sadar, setiap yang terjadi, pasti berimbas pada jejak-jejak detil takdir yang kelak dijalani.
AYAT 2 : Kehendak Tuhan, tidak selalu baik, menurutmu
Ibarat celengan, kita selalu menabung koin-koin harapan. Berharap kelak, koin itu bisa menjadikan kekayaan kita bertambah, walau berat menjinjingnya kemana-mana.
Tetapi, mungkin tiba-tiba celengan itu pecah, jatuh, menggelinding, atau hilang dicuri orang. Lantas, bagaimana dengan harapan yang kadung kita tabung?
Sekali lagi, arogansi manusia seringkali menutup mata hati untuk memaknai batasan-batasan hal “baik” dalam hidup ini. Multiversi yang sudah sepatutnya menjadikan otak dan hati kita siap dengan segala kemungkinan terburuk. Menyiapkan rencana cadangan jika strategi utama gagal di medan perang. Atau, apalagi yang perlu dilakukan setelah semua selesai sesuai harapan.
Firman Tuhan dalam kitabNya, semestinya menjadi acuan yang cukup jelas dalam menerima kehendak Tuhan. Selain itu, bukankah sosok Nabi panutan kita juga lebih dari cukup memberikan contoh nyata. Tentang bagaimana sikap yang baik dalam menerima berbagai versi kehendak Tuhan, bahkan yang terburuk sekalipun.
Ah, dasar manusia, lalu akan selalu berkilah dengan “Aku bukan nabi, yang bisa sempurna”
Ya, kita memang bukan nabi. Tapi coba lihat kembali, adakah petunjuk yang menyampaikan bahwa Nabi diutus untuk menuntut kita jadi manusia sempurna?
Semestinya, di awal menaruh harapan, kita juga mesti menelisik kemungkinan-kemungkinan. Penyakit overthinking dan insecure sepatutnya bisa diolah jadi peluang-peluang menuju penerimaan realistis, bahwa kehendak Tuhan bisa sangat baik, lebih baik, dan yang terpenting, menyiapkan hati menghadapi kenyataan jika kehendak Tuhan tidak sebaik apa yang diinginkan.
AYAT 3 : Doa hanya mengubah sikap orang yang berdoa
Apa alasan kita berdoa? Supaya harapan dikabulkan?
Persepsi umum yang dipahami manusia mungkin demikian. Tetapi kemudian perihal yang sering muncul ialah: “saya sudah berdoa, tetapi kenapa belum juga dikabulkan?”
Doa menjadi salah satu manifestasi yang memungkinkan harapan kita bisa dikabulkan. Diulang lagi, “salah satu manifestasi”. Artinya, mungkin saja di luar doa yang kita salurkan melalui energi alam ke penjuru langit, banyak juga jelujur faktor penentu yang pada akhirnya menjadi rumusan akhir dari persoalan doa yang kita sampaikan.
Entah rumusan itu menghasilkan nilai presisi sesuai detil harapan, atau bahkan melebihi yang prestisius. Dan mungkin yang terburuk, doa itu menghasilkan nilai yang kurang memusakan, dan kita harus “remidi”.
Intinya adalah, doa menjadi hal yang wajib dilakukan, namun sikap kita selagi berdoa itu juga merupakan penentu yang utama. Jangan-jangan, doa kita jadi tersendat karena sikap-sikap alam bawah sadar yang tidak disukai Tuhan. Mungkin pula, sikap kita terlalu merendah, sehingga mengecewakan Tuhan yang sudah merakit elemen instrument setiap inci tubuh kita dengan elegan.
Kenali dulu, mungkin arogansi mulai membayangi nurani kita yang suci. Tepis asumsi-asumsi yang mendistorsi keluhuran batin kita memaknai kalam Illahi. Cerahlah, biar kesuraman memudar, meskipun pelan-pelan.
Note : ayat-ayat didesain bersama rekan pencari pencerahan 🙏🏻



Komentar
Posting Komentar