Langsung ke konten utama

BRAIN ROOT MEMAHAMI SINYAL ASMARA DI DUNIA MAYA

 


Ritual menampar hati yang baperan dan penuh asumsi

 by : Itnaya Jiwake

Disclaimer yang perlu disampaikan, bahwa ini adalah murni sudut pandang penulis. Bukan selaku ahli asmara, ataupun konsultan hati seperti yang ramai di media. Setidaknya, pengalaman giat mendengar dan mempelajari situasi selama seperempat dekade, mungkin cukuplah untuk membuat pasal-pasal ini teryakini. Diperkuat dengan alibi-alibi berbasis fakta yang sulit untuk dipungkiri.

Besar dengan peralihan serba manual ke digital, rasanya kami sebagai kaum milenial mengalami transisi yang sangat dinamis. Salah satunya, menyikapi perihal asmara. Betapa standar kode dan sinyal sudah berubah jadi semakin membingungkan. Setidaknya, ada 3 p(asal) yang ingin saya kemukakan. Mohon maaf barangkali bagi sebagian yang relate, ini akan sedikit (atau mungkin sangat) menyakitkan. Tetapi, ada baiknya menampar diri sendiri dulu lebih awal. Ketimbang menunggu ditampar orang lain, yang mungkin malunya bisa tertahan sampai tahunan.

PASAL 1 : Dunia maya cuma perantara, bukan bukti konkret effortnya dia ke kamu

Pernah baper karena dichat tiap hari?

Tiba-tiba senyum sendiri karena dia nge-like dan nge-reply story?

Serame itu kiriman PAP dan banyaknya stiker hati?

Serunya haha hihi teleponan sampe pagi?

Bahkan sampe VC yang kebawa mimpi?

 

Aduhai, di zaman ini mudah sekali ya mentransformasi keinginan hati menjadi suka-suka gini. Detik itu dimau, detik itu juga bisa tinggal gerakkan jemari, kirim saja apa yang mau dikirim.

Terus dengan itu semua, iyakan dia ada perasaan?

Sebelum bertanya tentang dia, coba tanya dulu. GIMANA TENTANG KAMU?

Situasi apa yang saat itu kamu hadapi saat menerima segala treatment darinya. Jangan-jangan saat itu hatimu sedang kosong, sepi, gundah. Situasi yang sebenernya, secara naluri, secara lahir sudah sering kita alami dan sebelumnya biasa saja.

Lalu, dari layar hape-mu bermunculan hal-hal itu. Mungkin dari”nya” yang memang selama ini kamu incar hatinya, atau dari orang asing yang sebelumnya tak pernah terpikir akan datang begitu saja dalam hari-harimu.

Singkatnya, rumus ini kemudian menghasilkan jumlah misterius yang muncul tanpa hitungan. Kesendirianmu + kehadirannya = “Situasi yang aku mau selalu ada kamu”

 

Hey, itu terlalu terburu-buru. Bukankah itu hanya sebatas pertautan sinyal yang kebetulan saling terhubung?

Kenapa? Apakah setrumnya sampe ke hatimu? Tersengat juga kau oleh pesan yang dikirim lewat cyber?

Lalu, kau ingat bagaimana reaksimu?

Tersenyum sendiri yaa?? Astaga....

 

Cukup heran, bagaimana sekotak benda yang bahkan tak mampu bertahan tanpa baterai itu, mampu menyihir hatimu.

Pemaknaan kehadiran manusia rasanya sudah cukup dihidupkan dalam dunia maya. Sehingga kita seringkali terjebak dalam situasi yang sangat meyakinkan bahwa

“Ya, disana dia pasti sedang melakukan seperti apa yang kubayangkan.”

 

Lalu kamu akan tenggelam bersama khayalan-khayalan. Membayangkan bahwa di saat itu, kalian sedang berdua, menikmati saling kehadiran, yang sesungguhnya hanyalah maya.

 

Saya masih belum menemukan, apa bukti nyata bahwa pesan-pesan yang terbaca di layar ponsel dapat divalidasi sesuai dengan kenyataan yang ada.

Dengan emotikon sedih, benarkah pengirimnya benar-benar sedih?

Dengan stiker pelukan dan hati, benarkah pengirimnya sedang ingin memeluk dengan kasih sayang?

 

Tak ada tolak ukur yang pasti bukan?

Jadi sudah jelas. Tindakan di dunia maya, belum tentu berbanding lurus dengan kenyataan. Sungguh prematur bagi saya jika harus memaknai tuturan di layar sebagai relita fakta atas gejolak rasa.

 

Itu bukan bukti konkret, melainkan sebatas satu kemungkinan kecil yang perlu disandingkan dengan berbagai fakta lain agar saling mendukung.

Belum shahih bagi saya kalau belum ada tindakan nyata. Tindakan yang inisiatif dari hatinya. Bukan karena kode-kode yang kamu kirim dalam berbagai versi.

Sudahi kegalauanmu karena memikirkan “kesepian tanpa notifkasi dari dia”.

Ibarat itu suplemen yang bikin kamu ketagihan, semestinya di awal kamu sudah bisa baca dosisnya, gimana efek sampingnya kalau diminum, dan apa kontra indikasi yang akan ditimbulkan. Siap ya lanjut. Gak siap ya jangan diminum.

Jadi, yang mutlak adalah beranikan menawarkan pertemuan.

Tentu, bukan sembarang pertemuan. Pertemuan ini harus dalam kondisi yang sudah sama-sama bijaksana. Mampu mengesampingkan harapan sepihak yang seringkali berujung menjadi kecewa.

Pertemuan ini harus jelas tujuannya, yakni memvalidasi asumsi-asumsi yang ada. Pastinya, dilengkapi dengan stabilitas psikologis dan keseimbangan berpikir (yang nanti akan dibahas pada pasal 3).

Jelas ya sekarang,

dichat tiap hari

nge-like dan nge-reply story

kiriman PAP dan banyaknya stiker hati

teleponan sampe pagi

VC kebawa mimpi

BELUM TENTU jadi pertanda yang valid bahwa kalian saling menaruh rasa.

Ini hanya jebakan dunia maya. Dinikmati silakan, tapi tentukan batasannya. Sayang kalau kesia-siaan ini harus menjadi luka yang kamu bawa sampai akhir usia. Jangan ya dek ya.

 

PASAL  2 :Scroll scroll semakin bias, tak ada solusi

 

Ini juga jebakan lain yang sangat berbahaya menurut saya. Sekali kita masukin pencarian di media sosial, maka algoritmanya akan otomatis menampilkan hal-hal yang relate. Lalu yang ada, kamu semakin baper dengan validasi-validasi dari para konten kreator yang kamu, kenal aja enggak.

Tiba-tiba kamu akan merasa bahwa seluruh dunia sedang memihakmu. Merasakan apa yang ada dalam hatimu. Padahal itu hanyalah strategi marketing pembuat aplikasi supaya kamu terus terusan scroll laman mereka, makin lama…. Makin lamaa… dan makin baper. Mampus!

Harusnya masalah galaumu itu teratasi, yang ada malah pusing karena semakin terdistorsi. Solusi yang semestinya dihadirkan oleh media sosial sebagai “jawaban semua pertanyaan” lalu jadi bias karena kamu sendiri yang menghadirkan sisi lain untuk memberatkan bebanmu.

Bagus kalau otak masih jalan dengan logika yang kadung tertanam karena rajin baca buku, atau hati yang tenang karena stabil ibadah.

Nah kalau nggak keduanya?

Linglung aja jadi makhluk pelamun yang gak doyan makan. Mood ngapa-ngapain jadi hancur karena perasaan sendiri yang campur baur. Melihat dunia kayak nggak ada energinya. Karena pikiran udah terkurung “penjara dunia maya” yang kamu percaya paling mampu memahami perasaanmu.

 

Konyol ya kan?

Ternyata hatimu bisa lo ditipu sama barang yang nggak punya hati.

Pikiranmu bisa lo dipengaruhi sama barang yang nggak punya otak.

Duh……

 

Terus, selesai nggak masalahmu?

Zaman kami, dulu kalau ada masalah begini larinya ke buku diary. Kita nulis semua setumpah-tumpahnya. Terus kita simpan buku itu tanpa ada seorang pun yang tau.

Kenapa?

Karena sebenernya yang kita butuhkan cuma bercerita, menyampaikan semua biar jelas-sejelas-jelasnya. Setiap perasaan butuh waktu untuk mengenali statusnya. Dengan menulis atau bercerita, kita bisa tau mana-mana yang harus diselesaikan dengan segera.

Jangan malu atau sungkan bertanya, bercerita sama sosok yang kamu anggap bijaksana dan selalu ada di pihakmu tentunya. Bukan semata membelamu tanpa arah, tapi juga mampu melewati bersama, bicara pakai rasa dan logika.

 

 

PASAL 3 :Teknik menyeimbangkan hati dan logika

 

Ini perihal paling sulit. Hati punya naluri sendiri dan logika juga punya nalarnya. Cuma, keduanya harus bersanding. Oleng kalau salah satunya lebih dominan. Ngeri juga kalau saling diam, nggak saling menguatkan.

Tindakan-tindakan tulus dari hati mungkin nggak bisa dicegah dengan mudah. Seperti ketika kamu tetap balas chat nya, walau berbaris-baris chat mu yang lalu nggak pernah direspon olehnya.

Atau ketika kamu reflek saja ngasih dia semangat dan dukungan. Meskipun kamu seringkali tetap sendiri di saat kamu pengen dia juga support kamu.

Mungkin juga ketika kamu dan hati tulusmu percaya bahwa dia menjanjikan untuk terus nemenin, membersamai dalam semua keadaan.

Dan ketulusan-ketulusan lain yang memang diakui itu sulit untuk ditahan.

Maka, pilihannya hanya satu : SIAPLAH dengan segala reaksinya.

Termasuk jika dia tidak merespon.

 

Duh, sakit ya?

Ya, memang sakit di hati. Tapi cobalah dipikir.

Mungkin tidak semua situasi yang kalian hadapi selalu sama.

Dia bisa jadi sangat reaktif dan antusias ketika situasi mendukung untuk demikian, situasi yang santai, situasi yang mungkin dirasa cocok untuknya berbagi denganmu.

Pun sebaliknya.

Dia bisa jadi begitu pasif karena situasi-situasi lain. Mungkin, situasi itu kemudian berkaitan dengan kebutuhan partner yang dia mau.

Masalah yang umum terjadi adalah : HAL INI JARANG DI KONFIRMASI DI AWAL.

Di sinilah kemudian muncul peluang overthingking yang gak bisa dihindari seperti

“aku salah apa ya?”

“apa ada yang keliru ya?”

“jangan-jangan ini masalahnya”

Berapa hari kalian tahan? Biasanya tak pernah lebih dari 3 hari bukan?

Dan ini bagian yang menurutku paling menyedihkan.

Kebanyakan, penjelasan-penjelasan tentang kejadian yang sebenarnya baru dimengerti di akhir konflik, yang biasa kita sebut dengan : klarifikasi.

Kenapa menyedihkan?

Karena biasanya disini kita mulai tahu kenyataan-kenyataan yang tersimpan. Lalu, pikiran yang udah mulai tenang tadi, tiba-tiba akan kembali bimbang. Lalu memaafkan, tersakiti, dan begitu saja berulang. Capek kan?

Iya capek, tapi nyatanya, lama-lama kamu menikmati capek itu.

 

Terus bagaimana?

Teknik menyeimbangkan hati dan otak? Gampang saja. Rumusnya harus 20:80

Jika hatimu dalam kondisi 20 % tidak baik, maka otakmu harus 80% lebih baik

Sebaliknya

Jika otakmu sedang 20% tak mampu berpikir, maka hatimu harus 80% lebih bahagia

Rumus ini tidak bisa dibalik. Sudah paten.

Apa apa yang bisa membuat hati dan otakmu bisa jadi 80% pasti kamu tahu sendiri jawabannya.

cobalah kembali membuka pikiran dan hati bahwa banyak hal yang seharusnya bisa jadi hal yang membahagiakan, alih-alih terus dihantui perihal asmara.

Ingat, pastikan tulusmu mendapatkan tempat yang tepat untuk berbunga. Sungguh akan rugi dan tidak adil kalau tergesa-gesamu memaknai jeratan nyaman di dunia maya pada akhirnya menjatuhkan hatimu pada tempat yang keliru.

sabarlah, Tuhan selalu membuat semua tepat waktu. jangan mendahului kehendakNya.

Tolong, sayangi kamu.

Jangan lagi terserang brain root yang membahayakan ini. Pikir dan rasakan dengan seimbang. Ganbatte!!!

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR

BOTOL-BOTOL TERAKHIR Karya : Eka Wijayanti             Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan   seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri. Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalel...

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...