Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...

KENAPA HARUS “LONTONG?”

 Jika ditanya, mengapa memilih judul ini untuk dijadikan sebagai film pendek dengan tema moderasi beragama?  Barangkali, sebagian orang mengira jawabannya adalah ‘supaya bikin orang penasaran dan beda dari yang lain’. Bisa dimengerti sebab memang agak aneh mengaitkan Moderasi Beragama dengan Lontong. Dimana moderasi nya? Sesungguhnya, dalam realita, alasan pemilihan judul Lontong ini cukup sederhana. Sebelum-sebelumnya kami dan tim Moderasi Beragama, memang sudah mencari tahu tentang bentuk dan wujud moderasi beragama melalui sikap menghargai budaya lokal, salah satunya adalah budaya kuliner. Dan kemudian, naskah ini mengalir begitu saja dengan beberapa sentuhan detil yang mengantar pada penyampaian pesan toleransi.  Alasan sederhana lainnya, sekadar bagaimana kami bisa membuat film yang dilaksanakan di madrasah. Mengingat terbatasnya waktu dan sudah mulai sungkan kalau berkali-kali dispen ninggal pelajaran.  Beberapa poin penting juga coba kami cerminkan dalam eleme...

Ibuk Ekak Pamit dulu ya, Bandung Bondowoso!!

Orang bijak berkata, tidak ada kebahagiaan yang sejati. Segala hal yang berlawanan, sesungguhnya justru selalu berjalan beriringan. Pun dengan kebahagiaan, akan ada setitik duka yang menjadi kawan sejatinya.  Pada berita kepulangan ke kampung domisili, tentu menghadirkan syukur bahagia di jiwa. Penantian dan harapan yang dielukan pada setiap detik, menjadi nyata bak keajaiban yang tak terduga hadirnya. Namun, ada sisi kelam batin yang dirundung nestapa.  Sejujurnya tak banyak hal berkesan yang dapat dikenang dengan indah. Mungkin karena batin terlalu lelah dihujani berbagai beban dan tuntutan, sehingga sedikit saja ruang yang tersedia untuk menyimpan memori dan kisah yang dapat dijadikan tabungan cerita. Dari sedikit ruang itu, salah satu yang menempatinya adalah, mereka. Anak-anak didik yang selalu menemani langkah dan proses selama berada di rantau. Anak-anak yang menjadi motivasi dan energi terkuat, untuk tetap bertahan diantara kesepian mengabdi di tanah rantau. Selang beb...

REDISTRIBUSI : Penguatan Pengabdian Putra Putri Daerah Kembali ke Tanah Domisili

 "InsyaAllah, kabar bahagia akan datang" begitu bunyi pesan dari grup perantau yang kubaca selepas Isya. Pada mulanya, aku (dan mungkin kami) merasa biasa dengan pesan itu. Bukan karena pesimis, tetapi kami merasa lebih baik untuk berharap yang biasa. Sebab, beberapa kali sungguh-sungguh berharap, nyatanya impian dan harapan indah kami masih belum juga terwujud. Pada akhirnya, selalu sabar dan optimis, menjadi ikhtiar kami untuk menjalani pengabdian di tanah perantauan. Pesan yang kemudian terhenti tanpa diskusi panjang. Sebab sebelumnya, diskusi indah kami tentang khayalan pulang ke kampung asal, akan berakhir dengan "aamiin" yang cukup pilu. Namun, malam ini, ternyata ada kejutan. Kejutan yang bagaikan mukjizat.  "Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..." Jemariku gemetar membaca pesan yang baru sampai. Pesan bahwa kami mendapatkan undangan untuk menerima SK Redistribusi. Sebuah peristiwa yang sudah hampir 2 tahun kami perjuangkan dan kami nantikan. Apalagi, begi...