Orang bijak berkata, tidak ada kebahagiaan yang sejati. Segala hal yang berlawanan, sesungguhnya justru selalu berjalan beriringan. Pun dengan kebahagiaan, akan ada setitik duka yang menjadi kawan sejatinya.
Pada berita kepulangan ke kampung domisili, tentu menghadirkan syukur bahagia di jiwa. Penantian dan harapan yang dielukan pada setiap detik, menjadi nyata bak keajaiban yang tak terduga hadirnya. Namun, ada sisi kelam batin yang dirundung nestapa.
Sejujurnya tak banyak hal berkesan yang dapat dikenang dengan indah. Mungkin karena batin terlalu lelah dihujani berbagai beban dan tuntutan, sehingga sedikit saja ruang yang tersedia untuk menyimpan memori dan kisah yang dapat dijadikan tabungan cerita.
Dari sedikit ruang itu, salah satu yang menempatinya adalah, mereka. Anak-anak didik yang selalu menemani langkah dan proses selama berada di rantau. Anak-anak yang menjadi motivasi dan energi terkuat, untuk tetap bertahan diantara kesepian mengabdi di tanah rantau.
Selang beberapa menit menikmati kebahagiaan mendapat berita Redistribusi, hingar bingar ini lalu menjadi sepi ketika mengingat mereka. Terus terang, saya tidak memiliki redaksi yang cukup, serta kekuatan mental yang siap untuk menyampaikan berita kepulangan saya ini kepada mereka.
Bukan lebay, tetapi keadaan ini terjadi karena kami sudah terlanjur saling menaruh hati. Mereka selalu mampu mengisi waktu dan hari-hari yang penuh warna. Sedari pagi bahkan sampai menjelang malam, kami selalu bertemu.
Kadang pertemuan yang gembira selayaknya menyapa para remaja dengan segala cerita galaunya, atau pertemuan yang cukup serius membahas tugas-tugas, rencana, to do list untuk hari ini. Sering juga pertemuan yang random dengan tingkah dan kebiasaan mereka yang sudah menganggap markas sebagai rumah singgah ternyaman.
Lantas, saya memilih untuk diam.
Membiarkan waktu yang memilihkan jalan untuk mereka mengetahui kenyataanya. Hati ini belum mampu mengabarkan berita yang sebenarnya, meskipun itu adalah berita bahagia. Bahagia bagi saya, namun entah mengapa saya berfirasat bahwa ini adalah sebaliknya, bagi mereka.
Di keheningan itu saya mencuri langkah dan upaya, bagaimana cara "pamit" kepada mereka. Pamit yang tak perlu ada air mata, pamit yang bahagia, yang sukacita. Namun, pikiran ini tak menemukan jalan. Masih saja dibayangi wajah wajah ceria yang mungkin akan berduka, ketika momen pamit iu tiba.
Benar saja, lalu terbaca pesan yang dikirim oleh mereka
"Apakah ibuk Ekak juga pindah?", begitu pesan yang dikirimnya.
Deg.
Hari-hari sebelumnya, sapaan "Ibuk Ekak" terdengar biasa. Walau sedikit berbeda dengan sapaan Bu Guru pada umumnya, namun saya sangat senang ketika anak-anak memanggil dengan sapaan itu. Karena saya memang berniat dan berkeinginan mereka menganggap saya seperti ibunya sendiri. Yang bisa menjadi tempat "pulang" saat mereka butuh "rumah". Sehingga mereka bisa bercerita, berproses bersama, dan berkembang menemukan jati diri dan potensinya.
Celakanya, niat ini justru menjebak saya ketika panggilan pulang tiba. Anak-anak yang belum banyak saya beri bekal ini, harus saya tinggalkan untuk mengabdi di instansi yang baru. Ribuan kekhawatiran berkecamuk memaku lamunan, yang memuncak pada kebingungan bagaimana menghadapi pertanyaan mereka ketika hari Senin tiba. Seperti ini, beratnya seorang Ibu, meninggalkan anak-anaknya. Tetapi ini juga fase yang harus mereka hadapi, sebagai bukti bahwa selama ini mereka sudah bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Begitu akhirnya saya coba membuat pemahaman yang menenangkan batin.
Di Sabtu kami menerima SK Redistribusi, hari Senin-nya kami masih hadir bekerja seperti biasa, sambil menyelesaikan urusan administrasi. Lalu, saya putuskan untuk berlagak biasa, menyiapkan apel seperti biasanya, tetapi kali ini, saya tak berani menatap mata mereka. Takut kalau-kalau ada tatapan nestapa yang memilukan hati saya.
Pada amanat apel, tanpa diduga Kepala Sekolah mengumumkan perihal kepulangan kami. Memandangi anak-anak dengan beragam reaksinya, ada yang saling menoleh, ada pula yang langsung tertunduk lemas. Hati ini jadi nelangsa. Tapi setidaknya, nanti tak perlu panjang lebar menjelaskan kepada mereka. Ya, nanti setelah apel, mereka menyanggupi akan berkumpul sesuai intruksi yang diberikan.
Wajah resah dan gusar bertaburan saat mereka baris seusai apel. Melihat itu, nafas ini tiba-tiba sesak. Kata-kata yang sedari tadi sudah tertata, mendadak ambyar, buyar digilas pilu yang pelan-pelan menusuk kalbu.
Meski mencoba tersenyum, ternyata hati yang lembek ini tidak pandai menyimpan tangis. Baru mengucap salam, mulut sudah bergetar, Senyum yang dipaksa untuk mengembang, lalu ditarik oleh gurat kesedihan.
"Ayo tegar, ayo tatag!!" Begitu gumam dalam hati.
Tetapi ternyata, tidak berguna. Malah air mata yang bersalipan jatuh dari segala sudut.Yaah, bisa ditebak apa yang terjadi, mata-mata yang seharusnya saling menatap, malah saling beradu linangan air mata. Meski dengan tersedu, bibir ini mencoba mengucapkan kata-kata sebisanya.
"Ini bukan perpisahan ya, Ibuk Ekak cuma harus pulang. Karena rumah saya disana. Pesan saya kalian harus semakin kompak, saling menguatkan."
Itu saja mungkin yang mampu terujar dengan jelas. Selebihnya entah mereka bisa mendengar atau tidak. Selepas itu, saya memilih langsung pergi. Tak berani menyalami ataupun memeluk. Tidak mau dan tidak tahan melihat mereka menangis.
Dan di Rabu dengan langit kelabu, kami saling berpamitan. Bukan untuk berpisah, melainkan untuk berjuang pada takdir masing-masing.
Kami bersayonara di kios Bakso yang juga menjadi bagian dan saksi cerita kami.
Mereka melambaikan tangan, kubalas sekedarnya. Hingga puluhan kilometer berlalu, dan ribuan airmata menderu. Sepanjang jalan pulang, teringat semua masa bersama mereka.
Sehat-sehat ya anak-anak baik.
Saya menunggu cerita bahagia kalian,
Squad Bandung-Bondowoso


Terimakasih Bu Eka atas dedikasi yang sangat luar biasa kepada kami
BalasHapus