Langsung ke konten utama

Algoritma Bahasa Walikan : Sinergi Kearifan Lokal merangkul Kecerdasan Digital

Oleh : Eka Wijayanti, S.S.

Duel Abad 21 di Warung Kopi Ngalam


Di tengah gegap gempita zaman digital yang mengusung kecanggihan machine learning, muncul sebuah cerita langka dari jantung budaya Jawa Timur, khususnya Malang. Sebuah tradisi tutur yang bernama boso walikan tidak hanya bertahan, namun terus hidup dalam dinamika anak muda yang melek teknologi. Di satu sisi ada Artifcial Intelegence (AI) dengan kekuatan analitiknya, di sisi lain ada bahasa rakyat yang lahir dari perjuangan, kreativitas, dan rasa kebersamaan. Cerita simbolik “pertarungan” antara machine learning dan boso walikan bukan sekadar drama fiksi. Ia menjadi refleksi tajam terhadap dilema kultural yang kita hadapi saat ini: bagaimana budaya lokal bisa bertahan dan berinovasi dalam bayang-bayang teknologi yang semakin dominan? Untuk menjawabnya, kita perlu menggali sejarah, nilai, dan relevansi kontemporer dari bahasa terbalik khas Malang ini, sekaligus melihat bagaimana dialek lokal turut tergerus oleh gelombang urbanisasi. Bayangkan sebuah petang yang hangat di tengah hiruk-pikuk kota Malang. Di salah satu warung kopi legendaris di Kampung Kayutangan, aroma kopi yang khas menari-nari di udara. Suasana santai yang dipenuhi canda tawa dan obrolan seru mulai bergulir saat sekelompok anak muda berkumpul. Di satu sisi, terdapat seorang programmer berkemeja kotak-kotak yang bangga memamerkan algoritma dan kecanggihan machine learning-nya, yang diklaim mampu memprediksi tren pasar saham dalam hitungan detik. Di sudut lain, hadir sosok pemuda pribumi yang akrab disapa Inot (dari nama asalnya Toni, kemudian dibalik sesuai gaya boso walikan), yang dengan tegas menyuarakan kelebihan identitas lokal:

Oyi ta sam? AI iku mek iso ngitung, ora ngerti bosone kera Ngalam!”

Dalam kalimat ini tersimpan sindiran halus bahwa, meskipun kecerdasan buatan memiliki kekuatan komputasi yang dahsyat, ia belum mampu meniru kelakar dan keakraban yang tumbuh dari budaya anak Malang. Di sinilah panggung pertarungan epik antara kecerdasan tradisional yang melebur dalam bahasa unik boso walikan dan kecerdasan buatan modern mulai bergulir. Pernyataan itu bukan semata ejekan, melainkan pernyataan identitas yang menantang dominasi logika dingin teknologi. Kekuatan digital dan jiwa kearifan lokal, menciptakan duel yang menggabungkan intelektualitas dengan sentuhan humor khas Malang.

 

Babak 1: Boso Walikan, Bahasa Para Pemberontak

Boso Walikan (atau Basa Walikan Malangan) adalah bentuk komunikasi unik dari Malang, Jawa Timur, yang dicirikan oleh pembalikan struktur kata atau suku kata. Contohnya, "Malang" menjadi "ngalam" dan "arek" (pemuda) menjadi "kera". Awalnya, bahasa ini dianggap sebagai permainan linguistik masyarakat setempat, tetapi berkembang menjadi alat strategis selama masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan buku klasik dan orisinil yang dihimpun oleh Bintaldam V Brawijaya, Hamid Rusdi adalah tokoh pejuang kemerdekaan asal Malang yang aktif melawan kolonialisme Belanda pada masa Revolusi Nasional Indonesia (1945–1949). Pada masa itu, Belanda berusaha merebut kembali kekuasaan pasca-Proklamasi Kemerdekaan, memicu perlawanan sengit Malang. Pasukan Hamid Rusdi melakukan gerilya secara berpindah-pindah. Hal ini pada akhirnya menyebabkan pasukan berpencar dan kian berkurang. Keadaan semakin genting ketika para pejuang kesulitan mengenali penyusup atau mata-mata Belanda. Situasi ini menuntut para pejuang, termasuk kelompok Hamid Rusdi, untuk menemukan cara berkomunikasi yang aman dari penyadapan musuh. Penelitian terhadap arsip lokal dan studi etnografi mengenai budaya Malang mengungkap bahwa pada tahun 1948, di tengah masa penjajahan Belanda, muncul inovasi linguistik yang revolusioner: boso walikan. Teknik pembalikan kata ini bukan kebetulan; ia merupakan manifestasi dari perlawanan sastra sekaligus strategi komunikasi rahasia para pejuang kemerdekaan. Ketika Belanda sibuk menyusun strategi penaklukan, para pejuang gerilya Malang memanfaatkan kekayaan bahasa sebagai senjata. Mereka menciptakan "boso walikan", suatu bahasa terbalik yang dengan cerdik menyembunyikan maksud sebenarnya. Dalam bahasa ini, kata-kata sehari-hari diubah urutannya dengan rumus yang bisa berbeda di setiap kata, misalnya “Malang” menjadi “Ngalam”, “Belanda” menjadi “Nala”, dan “makan” berubah menjadi “nakam”. Transformasi ini bukan hanya sekadar permainan kata, melainkan strategi militer yang efektif. Gerilyawan Malang pun sengaja menggunakan bahasa ini saat berkumpul, sehingga informasi penting yang tersampaikan menjadi teka-teki bagi pihak musuh. Para gerilyawan GRK menggunakan boso walikan agar musuh asing tersandung dalam kebingungan. Saat intel Belanda menyadari bahwa mereka mendengar boso walikan mereka pun kebingungan dalam menafsirkan pesan tersembunyi tersebut. Meski sudah familiar dengan bahasa Jawa, mata-mata tentara Belanda yang berasal dari pribumi pun tetap kesulitan memahami boso walikan, dan ujungnya mereka gagal menangkap maksud komunikasi para gerilyawan. Dengan cara ini, identitas dan keamanan komunikasi para pejuang terjaga dengan cerdik. Penerapan strategi linguistik ini bahkan didokumentasikan sebagai salah satu bentuk kodifikasi budaya yang tak lekang oleh waktu. Boso walikan bukan sekadar fenomena linguistik; ia adalah manifesto perlawanan yang menyuarakan identitas anak Malang. Teknik pembalikan ini mengandung semangat gotong royong, humor sarkastis, dan kejantanan budaya kekuatan yang tak bisa ditandingi oleh sistem kriptografi canggih sekalipun.

 

Babak 2: Machine Learning vs Kreativitas Arek Malang

Melewati waktu, kini kita memasuki era digital di mana machine learning telah merambah ke berbagai aspek kehidupan. Di tahun 2024, kecerdasan buatan mampu menulis puisi, menyusun lagu, bahkan membantu menyelesaikan skripsi mahasiswa. Teknologi yang awalnya dipandang sebagai terobosan luar biasa, mulai diuji dalam ranah budaya dan bahasa lokal. Sebuah percobaan menarik terjadi saat salah satu wujud machine learning canggih, diuji untuk menerjemahkan boso walikan. Pengguna memberikan instruksi: “Buat kalimat dengan  boso walikan: Aku kamu cinta Malang sampai mati”, yang dihasilkan hanyalah “ayas mukam atnic ngalam iapmas itam”, sebuah kalimat yang tidak hanya keliru urutannya, tetapi juga kehilangan esensi spirit perjuangan dan keakraban khas Malang. Di tangan anak-anak Malang yang fasih menggunakan boso walikan, sebuah kalimat penuh terdengar begitu natural dan menggelitik meskipun hanya di warung kopi. Di sini tersirat kelemahan AI yang belum mampu memahami konteks budaya dan kelakar lokal secara mendalam.

Dalam sebuah riset eksperimental yang dilakukan oleh penulis, sebuah sistem AI canggih diuji dengan perintah “Buat kalimat pake boso walikan: Aku sayang kamu”. Hasil yang diperoleh AI adalah “Uka gniayas mukak”, yang secara kritis gagal mematuhi prinsip sintaksis dan semantik boso walikan. Kecerdasan buatan, meski jago dalam perhitungan kompleks dan algoritma, terbukti kehilangan “jiwa” budaya ketika harus menangani nuansa kearifan lokal. AI terbatas oleh data yang bersifat formal, sedangkan boso walikan mengandung lapisan interaksi sosial, keakraban, dan kekeliruan yang disengaja suatu bentuk seni berbahasa yang melekat pada identitas anak Malang.

 

Babak 3 :Serbuan Pendatang dan Perang Bahasa

Urbanisasi dan migrasi telah mengubah wajah kota Malang. tidak hanya secara demografis tetapi juga linguistik dan konsistensi budaya lokal. Sebagai bahasa sandi khas arek Malangboso walikan (bahasa terbalik) yang awalnya berkembang sebagai alat komunikasi perlawanan dan identitas lokal, kini menghadapi tantangan serius akibat derasnya arus pendatang dari Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2022) menunjukkan bahwa 7 dari 10 anak kos di Malang berasal dari luar kota, membawa serta logat dan istilah khas daerah asal mereka. Hal ini menyebabkan pergeseran dalam penggunaan bahasa, di mana ungkapan tradisional bergeser menjadi campuran kosakata modern. Misalnya, kata sapaan “Umak arep nang ndi?” perlahan tergeser oleh “Cuy, lu mau kemana?”. Pertarungan linguistik ini bukan hanya soal perbedaan kata, melainkan juga krisis identitas. Anak-anak Malang asli mulai merasa terpinggirkan ketika logat mereka disalahartikan sebagai bahasa pendatang. Aktivitas masa kini yang didominasi oleh referensi dan tren media sosial pada akhirnya membawa pengaruh pula pada wawasan berbahasa. Media sosial yang lebih banyak menggunakan bahasa gaul seolah menjadi bare minimum prestise berbahasa yang sesungguhnya justru menjadikan identitas kedaerahan menjadi semakin bias. Yang terjadi selanjutnya, adalah berkurangnya transmisi antargenerasi. Semakin sedikit penduduk asli Malang yang mengajarkan boso walikan kepada anaknya, salah satunya karena stigma "kampungan", dimana sebagian anak muda menganggap boso walikan kurang cool dibandingkan bahasa gaul yang hype.

Kemudian, menyusul dampak berupa fragmentasi penutur boso walikan. Situasi yang secara alamiah membagi penutur boso walikan menjadi kelompok tradisional yang terdiri dari veteran, pejuang budaya, seniman yang tetap setia menggunakan boso walikan murni. Dan ada kelompok urban yang didominasi oleh pendatang, dan generasi muda terpapar media sosial, yang hanya mengenal beberapa kata tanpa memahami strukturnya.

 

Strategi Kolaboratif di Era Digital

Inovasi menjadi sepatu yang wajib dipakai untuk berlari melewati lintasan cyberlokal. Dalam menghadapi tekanan modernisasi, kera Ngalam tidak tinggal diam. Mereka menyusun strategi kolaboratif dengan memanfaatkan kekuatan media sosial dan teknologi digital sebagai alat kampanye budaya.

1. Senjata Medsos
Akun-akun media sosial termasuk akun resmi Pemerintah Kota Malang terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat dengan konten yang menyuarakan kepribadian lokal khususnya boso walikan. Beberapa konten juga pernah menyajikan topik bahasa Malangan yang dikombinasikan dengan trend dan tema sajian masa kini.

2. Invasi Musik dan Seni
Beberapa musisi lokal seperti Aradoes Band menyusun sebuah komposisi berjudul “Uklam-Uklam Ngalam”, pernah juga penulis membuat sebuah multiperformance teater, tari, boso walikan berdurasi dua jam yang mengangkat perjuangan Hamid Rusdi. Ada juga karya tari yang mengangkat pengiriman berita berbahasa walikan melalui “Surat Pantat” para penjual atau dikenal dengan mlijo di pasar. Dan banyak seniman lain yang menempuh jalur berkarya kreatif untuk memberikan kontribusinya kepada pelestarian boso walikan.

3. Gerilya Kuliner
Kuliner pun tak mau ketinggalan. Kedai kopi eksperimental menciptakan menu-menu dengan nama-nama unik, seperti “Ipok Nakam” yang merupakan penyamaan antara kopi dan makanan, serta “Kuane Lop” yang menunjukkan ekspresi cita rasa. Ada juga kafe dengan nama “Nendes Kombet” yang berarti senden tembok atau bersandar di dinding. Sebuah konsep asik yang memadukan nuansa kenyamanan dengan hangat cengkerama santai khas kaum urban dengan bersandar di dinding.

4. Strategi Interdisipliner
Kolaborasi antara ahli bahasa, antropolog, dan insinyur teknologi mulai digiatkan untuk meningkatkan pemanfaatan AI yang tidak hanya pintar menghitung, tetapi juga dapat “guyon” dengan bahasa gaul lokal. Pendekatan interdisipliner ini diharapkan menjadi jembatan antara tradisi lisan dan teknologi modern.

 

Interaksi Budaya dan Teknologi: Harmoni yang Tertata

Dalam era digital, interaksi antara teknologi tinggi dan kearifan lokal kerap menimbulkan pertanyaan mendalam: Bagaimana memastikan bahwa kemajuan AI tidak mengikis identitas budaya yang telah terpatri ratusan tahun? Kekurangan AI dalam memaknai algoritma bahasa walikan menimbulkan kesadaran akan fakta bahwa literatur tentang budaya lokal ternyata belum dapat dikenali dengan baik oleh kecanggihan teknologi. Perlu adanya riset interdisipliner yang dikolaborasikan dengan pengembangan AI lokal. Ide pengembangan algoritma yang sensitif terhadap konteks budaya lokal memerlukan basis data linguistik yang  secara khusus mengakomodasi ragam logat dan istilah warisan. Program “AI Lokal” ini mungkin dapat diupayakan menyerap nilai-nilai etnolingual dengan membangun korpus yang berisi ungkapan-ungkapan khas Malang, seperti boso walikan, untuk mengajarkan mesin mengenai kekayaan ekspresi budaya. Kearifan tradisional yang seringkali dianggap kuno dan ketinggalan zaman, ternyata dapat mengungguli logika digital. Meskipun mesin memiliki kecepatan komputasi yang luar biasa, mereka tak mampu meniru spontanitas dan kelakar khas yang lahir dari interaksi manusia di warung kopi. Boso walikan, dengan struktur fleksibel dan ritme yang menggelitik, merupakan cermin dari semangat kreatif anak Malang—sebuah seni yang menolak diatur oleh aturan baku logika digital. Harta kekayaan pemikiran pejuang gerilya, yang bahkan tak mampu ditembus kecepatan cahaya dan akurasi alat pendeteksi: MAHAL !!!

Dalam konteks globalisasi, pertempuran antara logika mesin dan kekayaan budaya lokal memperlihatkan dinamika konflik yang kompleks. Kecanggihan teknologi tidak selalu sejalan dengan kepekaan terhadap konteks sosial dan historis. AI dapat menghitung dengan tepat, tetapi sering kali terjebak dalam konvensi logika yang kaku. Sementara itu, budaya lokal, dengan segala kekurangannya, mencerminkan keanekaragaman emosi dan nilai yang tidak bisa diukur dengan angka. Di tengah benturan ini, muncul ide untuk menciptakan sinergi, di mana teknologi dapat dijadikan alat pelestarian budaya. Seminar, workshop, dan kolaborasi lintas disiplin mulai dibidik untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan nilai-nilai kearifan lokal, sehingga keduanya dapat berjalan berdampingan. Sebuah Analisis Sosiolinguistik kiranya perlu juga dipaparkan. Bahasa merupakan cermin identitas suatu komunitas. Perubahan dalam cara berbahasa merupakan respon terhadap dinamika sosial; oleh karena itu, pergeseran penggunaan istilah di kota Malang adalah manifestasi dari adaptasi masyarakat dalam era globalisasi. Upaya perlawanan melalui penggunaan boso walikan merupakan pernyataan bahwa budaya asli harus tetap hidup dalam arus modernisasi.

 

Epilog: Siapa yang Menang? Perjalanan Tanpa Akhir

Pada akhirnya, pertarungan ini tidak dapat ditandai dengan kemenangan satu pihak, melainkan dengan transformasi kontinu antara dua kekuatan. AI merupakan simbol kemajuan yang mampu mengoptimalkan perhitungan dan analisis data secara luar biasa. Sedangkan Boso Walikan mewakili jiwa, kreativitas, dan identitas anak Malang—sebuah bahasa yang mampu menyiratkan spirit, kecerdasan intelektual dengan makna yang lebih dari sekadar kata-kata.

Pertarungan antara algoritma dan aksen lokal mengajarkan bahwa inovasi dan tradisi bukanlah musuh, melainkan dua sisi dari koin yang sama. Selama semangat gotong royong serta kecintaan pada budaya terjaga, setiap canda, ejekan, dan sindiran yang dilontarkan di warung kopi akan tetap menggema. Jadi, ketika tanya pun dilontarkan:

“Kapan AI bisa ngoceh pake boso walikan sambil nyruput kopi di warung?”

Jawabannya masih terbungkus misteri—sebuah teka-teki yang menggoda, sambil menantikan evolusi dimana teknologi tidak hanya menghitung, tetapi juga bisa bercanda dengan budaya lokal. Sampai saat itu tiba, pertempuran epik antara algoritma dan kearifan lokal akan terus bergulir, sebagai saksi bisu perjuangan jiwa-jiwa kreatif di zaman serba digital.



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerpen BOTOL BOTOL TERAKHIR

BOTOL-BOTOL TERAKHIR Karya : Eka Wijayanti             Kilatan lampu flash kamera mendadak berhenti. Bisik bisik lirih seketika sirna. Tak ada yang menyangka bahwa hari ini, isu itu benar-benar terjadi. Sesuatu yang banyak dicibir orang, dianggap tak mungkin, dinilai tak rasional, berhasil dibungkus menjadi kejutan hari ini. Jauh meleset dari prediksi para kritikus tentang pesimisme negeri ini dalam mempertahankan konsistensi antara wacana dan realita. Semua mata tertuju pada sajian konferensi pers yang dilakukan oleh Menteri Penanggulangan Limbah dan Sampah. Barangkali, saking parahnya masalah sampah hingga pemerintah negeri ini menugaskan   seorang menteri khusus untuk menanggulanginya. Magister Muda ini, baru kemarin menjabat. Dan hari ini sudah membuat heboh penduduk se-antero negeri. Tepat pukul 19.30 malam ini ia mengumumkan bahwa di negeri sedang dalam masalah yang cukup berat. Sampah dan limbah sungguh merajalel...

KEMUDAHAN MENYUSUN CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN TABEL TASSITA

TASSITA adalah singkatan dari Tabel Stimulus Inspirasi Cerita.   Menurut KBBI, Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem, urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak. Dalam hal ini tabel yang disusun adalah tabel jenis referensi yaitu  tabel yang berfungsi sebagai sumber segala keterangan yang terperinci dan digunakan untuk penunjukan. Stimulus berarti perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif (KBBI, 2019) , sedangkan inspirasi berarti ilham. Masih dalam KBBI, cerita diartikan sebagai tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya) atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka). Sehingga TASSITA dapat dipahami seb...

TENTANG MUSIKALISASI PUISI

  TENTANG MUSIKALISASI PUISI Oleh : Eka Wijayanti, S.S. (Guru Bahasa Indonesia, MAN 1 Kota Malang)                 Pekan lalu, saya berkesempatan untuk bertugas sebagai penilai Lomba Musikalisasi Puisi yang dilaksanakan ole rekan-rekan MGMP Bahasa Indonesia MTs Jawa Timur. Lomba ini merupakan salah satu rangkaian event peringatan   Bulan Bahasa tahun 2024 yang dilaksanakan pada 15-16 November 2024. Sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk mengapresiasi karya para siswa MTs ini. Meskipun pada awalnya sempat sedikit “waw” mengingat berkarya musikalisasi puisi bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi siswa setingkat menengah pertama. Namun anggapan ini sekiranya dipatahkan oleh pembuktian persembahan karya peserta yang memukau.             Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan peserta yang telah berproses dan memperkenalka...