Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Bersiap Merangkul Pembelajaran Koding dan Artificial Intelegence

Masih menuai pro dan kontra, perlukah pembelajaran Koding dan AI ini segera diterapkan? Berbagai opini dan pendapat bermunculan.Namun, setiap perubahan tentunya membutuhkan detil-detil kesiapan strategis yang berdampak pada kami, unsur pelaksana pendidikan. Alih-alih memperdebatkan kepentingan dan urgensi, kelihatannya kita lebih bijak jika bersegera menyiapkan "uborampe" yang harus hadir dalam rangkaian "ritual" baru, sebagai implikasi dari hadirnya wacana kebijakan yang semakin berwarna-warni. Fakta tentang laju pesat putaran zaman sebaiknya kita terima dengan membuka mata bahwa selain sandang, pangan, papan, nampaknya kecerdasan buatan kini turut menjelma menjadi kebutuhan pokok yang tak terhindarkan. Solusi cepat yang menjadi rujukan mesti akurat tepat-nya terkadang masih disangsikan. Kami kurang suka menebutnya sebagai ancaman, namun sebagai pendidik, kita patut menguatkan bekal pemahaman tentang bagaimana kecerdasan buatan ini bekerja, menyarikan informasi, hi...

Algoritma Bahasa Walikan : Sinergi Kearifan Lokal merangkul Kecerdasan Digital

Oleh : Eka Wijayanti, S.S. Duel Abad 21 di Warung Kopi Ngalam Di tengah gegap gempita zaman digital yang mengusung kecanggihan machine learning , muncul sebuah cerita langka dari jantung budaya Jawa Timur, khususnya Malang. Sebuah tradisi tutur yang bernama boso walikan  tidak hanya bertahan, namun terus hidup dalam dinamika anak muda yang melek teknologi. Di satu sisi ada Artifcial Intelegence (AI)  dengan kekuatan analitiknya, di sisi lain ada bahasa rakyat yang lahir dari perjuangan, kreativitas, dan rasa kebersamaan. Cerita simbolik “pertarungan” antara machine learning  dan boso walikan  bukan sekadar drama fiksi. Ia menjadi refleksi tajam terhadap dilema kultural yang kita hadapi saat ini: bagaimana budaya lokal bisa bertahan dan berinovasi dalam bayang-bayang teknologi yang semakin dominan? Untuk menjawabnya, kita perlu menggali sejarah, nilai, dan relevansi kontemporer dari bahasa terbalik khas Malang ini, sekaligus melihat bagaimana dialek lokal turut terger...

MENEBUS RINDU

Aku melihat seperti ada yang membuncah dari matamu. Berkilauan menyampaikan runtutan cerita yang lama kau simpan. Kau tak putus mengisahkan segala hal tentang hidup. Dan mengalir saja menemukan muara, dalam gema suara-suara. Selalu seperti itu. Kita hanya saling cerita, tetapi cerita cerita itu seperti membelai sisi batin yang mungkin sebelumnya tak tersentuh. Terlebih, selalu ada perjalanan serupa yang ditemukan tanpa sengaja. Dan itu semakin, menusuk ketika jadi kenangan yang hanya berputar di kepala. Saat jarak kembali menegur sapa. Samar-samar, aku menyaksikan titik rona bahagia yang terhalang dinding keangkuhan. Ah, mengapa kita begitu naif mengabaikan kejujuran rasa bahwa, iya, menemuimu kali ini adalah hal yang membuat hari semakin berwarna. Bertemu saat ini, adalah waktu paling kutunggu.  Sementara, ada potongan hati yang bergulat menebus rindu. Mencari-cari sesuatu yang lama ingin disampaikan. Memilah-milah kisah yang ingin diuraikan. Tapi semua gagal. Waktu lebih suka mem...

BRAIN ROOT MEMAHAMI SINYAL ASMARA DI DUNIA MAYA

  Ritual menampar hati yang baperan dan penuh asumsi  by : Itnaya Jiwake Disclaimer yang perlu disampaikan, bahwa ini adalah murni sudut pandang penulis. Bukan selaku ahli asmara, ataupun konsultan hati seperti yang ramai di media. Setidaknya, pengalaman giat mendengar dan mempelajari situasi selama seperempat dekade, mungkin cukuplah untuk membuat pasal-pasal ini teryakini. Diperkuat dengan alibi-alibi berbasis fakta yang sulit untuk dipungkiri. Besar dengan peralihan serba manual ke digital, rasanya kami sebagai kaum milenial mengalami transisi yang sangat dinamis. Salah satunya, menyikapi perihal asmara. Betapa standar kode dan sinyal sudah berubah jadi semakin membingungkan. Setidaknya, ada 3 p(asal) yang ingin saya kemukakan. Mohon maaf barangkali bagi sebagian yang relate, ini akan sedikit (atau mungkin sangat) menyakitkan. Tetapi, ada baiknya menampar diri sendiri dulu lebih awal. Ketimbang menunggu ditampar orang lain, yang mungkin malunya bisa tertahan sampai ...

Ketulusan : Estetika memahami Harmoni berujung Sakit Hati

 Sesekali mungkin hatimu pernah tergerak untuk memulai ketulusan pada seseorang. Tulus yang begitu saja datang tanpa ada sebab. Tulus yang murni datang tanpa perlu ditanya, perlukah melakukan ini? Barangkali, kebiasaan hatimu memang demikian. Seperti mudah saja memberikan apa yang kamu bisa. Mengusahakan agar pinta yang dikata segera menjadi realita. Orang orang akan berterimakasih. Dan kau, bahagia bukan?  Dari terimakasih itu, hatimu kemudian tergerak untuk semakin melakukan kebaikan kebaikan. Yang tanpa sadar menyisipkan harapan bahwa kelak, kebaikan ini akan menjadi bunga bermekaran di taman amalmu. Rumusan logika klasik yang masih kita pedomani, namun sayangnya jarang kita maknai dengan presisi. Di zaman ini, ketulusan bukan lagi “barang” yang bisa dijual dengan “mahal”. Mata batin dan kepekaan yang hambar telah membuat manusia manusia mulai menaruh pemberian berlian sebagai bare minimum kasih sayang. Ketulusan memberi waktu, jadi tak bermakna karena yang diingini adalah ...

BOOK OF ENLIGHTENMENT “Seni Menegur Arogansi melalui Ayat Pengendali Asumsi”

  Perjalanan melangkahi zaman telah tiba pada masa yang super aneh. Persatuan bumi yang dihuni oleh ragam makhluk yang di kelaskan dalam sebutan “generasi”. Bercampur baur pada semburat kedalaman kemampuan mencerna gelagat teknis dan geliat dunia. Titik mula berpikir, jalan awal berlogika saling menabrak. Mendebat kebenaran yang idealistik sesuai keakuan masing-masing. Situasi pelik yang lalu bertansformasi menjadi sebentuk penjara nirmana, dan kemudian disebut dengan “arogansi”. AYAT 1 : Semua akan kalah dengan kehendak Tuhan, hanya kehendak Tuhan yang paling Absolut. Canda tawa manusia mengelukan kemampuan diri, menghadang kesulitan hidup. Menggugat ketidaksesuaian harapan dan kenyataan. Lalu membutakan naluri tentang bagaimana penciptaan hakiki. Berpasrah tentu bukan jalan yang mengakhiri gelisah, namun menantang garis takdir juga cukup berbahaya dan ‘berangasan”. Konsep mengimani takdir semakin dikaburkan oleh pemaknaan jalan hidup yang serba tentatif. Kadangkala menjadi jebaka...

CERITA TENTANG PERTEMUAN

Betapa sibuknya manusia menjalani hari yang barangkali dalam keramaiannya, bisa jadi terasa sepi. Entah karena berubahnya prioritas bercerita, atau tak sadar bahwa selama ini, kita adalah sendiri. Menghadapi segala kericuhan duniawi yang seperti tidak bertepi.  Ada nasib baik saat peristiwa kemudian mengantar kita bertemu orang-orang istimewa. Yang mampu memelintir rasa sepi itu menjadi sedikit "bersuara". Yang begitu saja menjadi ajaib berkat hal-hal tak terduga yang ternyata seperti garis takdir mirip serupa. Dan perlahan kesepian itu mengurai jadi cerita. Saling mendengar, juga saling bicara. Lalu begitu saja, sulaman memori tersambung tersusun mengikat batin, menunggu ujung. Pada nada bicara yang bertemu dalam kesempatan, mengalir saja menimpali kisah demi kisah yang seperti tidak habis. Jika saja gerimis tidak datang, barangkali bisa mengantar kita lebih jauh menelisik episode hidup. Pada waktu lain, ada pula suara-suara yang tertelan bersama tegukan gelas-gelas keakraba...